Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah gencar mengoptimalkan potensi kelautan dan perikanan di wilayahnya. Langkah ini dilakukan melalui penerapan pembangunan berkelanjutan dan inklusif sebagai strategi utama untuk mencapai target indeks ekonomi biru yang ambisius.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, Muslim, pada Rabu (21/1/2026) di Mataram, menegaskan bahwa pendekatan ekonomi biru kini menjadi instrumen krusial dalam mewujudkan pembangunan sektor kelautan dan perikanan yang berkesinambungan.
Ekonomi Biru sebagai Kebijakan Pembangunan
“Ekonomi biru telah menjadi bagian dari kebijakan pembangunan nasional dan daerah, termasuk dalam perencanaan pembangunan jangka menengah,” ujar Muslim, menggarisbawahi pentingnya konsep ini dalam agenda pembangunan.
Muslim menjelaskan, pengelolaan sumber daya laut tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi. Lebih dari itu, pihaknya juga berupaya menggerakkan peran sosial masyarakat pesisir melalui penguatan kearifan lokal serta penerapan pengelolaan berbasis ekosistem.
Sinergi dan komunikasi yang kuat antarpihak menjadi kunci dalam mendukung pelaksanaan program-program nasional di daerah. Hal ini bertujuan untuk memastikan masyarakat pesisir dapat merasakan manfaat nyata dari pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
“Kami mengapresiasi seluruh mitra termasuk pemerintah pusat, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan yayasan konservasi yang telah berkontribusi dalam mendukung program kelautan dan perikanan di NTB,” kata Muslim, menyampaikan penghargaan atas kolaborasi yang terjalin.
Target Ambisius dalam RPJPD 2025-2045
Merujuk pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025-2045 yang telah ditetapkan menjadi peraturan daerah, Pemerintah NTB menargetkan lompatan besar. Indeks ekonomi biru diharapkan meningkat signifikan dari 54,53 poin menjadi 210,50 poin.
Pengembangan ekonomi biru di NTB akan dilakukan dengan pendekatan berbasis teknologi dan pemberdayaan masyarakat. Strategi ini dirancang untuk mengelola potensi eksisting dan potensi baru dari sektor perikanan dan kelautan. Tujuannya adalah pembangunan berkelanjutan yang inklusif, termasuk pengembangan pariwisata bahari dan minat khusus.
Dalam peta jalan RPJPD 2025-2045, Nusa Tenggara Barat bertekad untuk keluar dari dominasi sektor pertambangan. Sebagai gantinya, provinsi ini akan mengoptimalkan sektor-sektor unggulan seperti pariwisata, maritim, dan pertanian.
Berbagai inisiatif terkait telah dilakukan, seperti menjadikan Samota sebagai episentrum pembangunan ekonomi biru di Sumbawa, kajian aspek biologi dan habitat gurita di Selat Alas Lombok-Sumbawa, serta kerja sama Pemkot Bima dengan ITS Surabaya untuk pengembangan ekonomi biru. Selain itu, NTB juga mendorong Teluk Ekas menjadi sentra budi daya rumput laut.
