Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) secara tegas menyatakan Jalur Gaza sebagai wilayah paling mematikan di dunia bagi para jurnalis. Pernyataan ini disampaikan melalui unggahan di platform X, bertepatan dengan peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia pada Senin, 4 Mei 2026.
Dalam kesempatan tersebut, badan PBB itu mendesak komunitas internasional untuk tidak hanya berhenti pada kecaman dan solidaritas, melainkan segera mengambil tindakan nyata. OHCHR menekankan pentingnya akuntabilitas, perlindungan bagi para jurnalis, serta memastikan akses independen bagi media internasional untuk meliput situasi di Gaza.
Kepala HAM PBB: Gaza Jebakan Maut bagi Media
Kepala HAM PBB, Volker Türk, turut menyoroti kondisi mengerikan tersebut. Ia mengatakan, “perang yang hingga kini masih berlangsung di Gaza telah menjadi jebakan maut bagi media.” Pernyataan ini menggarisbawahi risiko ekstrem yang dihadapi para pekerja media di tengah konflik.
OHCHR telah memverifikasi data yang menunjukkan hampir 300 jurnalis tewas sejak Oktober 2023. Angka tragis ini tercatat sejak agresi Zionis Israel diluncurkan ke Jalur Gaza. Selain korban jiwa, sejumlah besar jurnalis juga dilaporkan mengalami luka-luka serius saat menjalankan tugas peliputan di wilayah kantong tersebut.
Situasi ini memperburuk krisis kemanusiaan dan informasi di Gaza, di mana akses media independen sangat krusial untuk menyampaikan kebenaran kepada dunia.
