Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Jumat (1/5) menuding Amerika Serikat (AS) telah salah menggambarkan biaya perang yang sebenarnya. Melalui unggahan di platform media sosial X, Araghchi secara tegas menyatakan bahwa Pentagon “berbohong” mengenai angka pengeluaran untuk konflik tersebut.
Araghchi menyebutkan bahwa biaya perang yang ditanggung AS telah mencapai 100 miliar dolar AS, jauh melebihi klaim resmi. “Spekulasi berisiko Netanyahu telah secara langsung merugikan Amerika sebesar 100 miliar dolar AS sejauh ini, empat kali lipat dari yang diklaim,” tulisnya, merujuk pada pemimpin otoritas Israel, Benjamin Netanyahu.
Menurut Araghchi, biaya tidak langsung yang harus ditanggung oleh pembayar pajak AS “jauh lebih tinggi.” Ia bahkan merinci, “Tagihan bulanan bagi setiap rumah tangga Amerika mencapai 500 dolar AS dan terus meningkat cepat.”
Kritik tajam juga dilayangkan Araghchi terhadap kebijakan AS yang dinilainya terlalu memihak Israel. “Israel First selalu berarti America Last,” tegasnya, mengindikasikan bahwa mendahulukan kepentingan Israel berarti mengorbankan kepentingan Amerika.
Pernyataan Araghchi ini kontras dengan kesaksian pejabat Pentagon, Jules Hurst, di Kongres pada Rabu lalu. Hurst menyatakan bahwa “Operation Epic Fury” sejauh ini menelan biaya sekitar 25 miliar dolar AS.
Sebagai konteks, Amerika Serikat dan Israel memulai serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Konflik ini memicu balasan dari Teheran, yang menargetkan sekutu AS di kawasan Teluk dan menyebabkan penutupan Selat Hormuz.
Upaya mediasi Pakistan berhasil menghasilkan gencatan senjata pada 8 April 2026. Pembicaraan lanjutan di Islamabad pada 11–12 April 2026, meskipun berlangsung maraton, tidak membuahkan kesepakatan. Presiden AS Donald Trump kemudian secara sepihak memperpanjang gencatan senjata tersebut tanpa menetapkan batas waktu baru, atas permintaan Pakistan.
