Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa upaya pembangunan kembali dan rehabilitasi sistem kesehatan di Jalur Gaza membutuhkan investasi besar, mencapai 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp172 triliun, dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Pengumuman ini disampaikan dalam konferensi pers di Jenewa pada Jumat (24/5), yang disiarkan dari Yerusalem. Reinhilde Van de Weerdt, Perwakilan WHO untuk wilayah Palestina yang diduduki, menjelaskan bahwa kerusakan di sektor kesehatan saja ditaksir mencapai 1,4 miliar dolar AS (sekitar Rp24 triliun).

Lebih dari 1.800 fasilitas kesehatan, mulai dari rumah sakit besar hingga pusat perawatan primer, klinik, apotek, dan laboratorium, telah hancur sebagian atau seluruhnya akibat konflik. Kondisi ini diperparah dengan lingkungan yang tidak sehat.

“Bangunan yang hancur dan tumpukan sampah menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi tikus dan hama. Sebanyak 80 persen dari 1.600 lokasi pengungsian kerap melihat kemunculan tikus dan hama; 80 persen lebih dari lokasi pengungsian ini melaporkan infeksi kulit, seperti rabies, kutu, dan kutu kasur,” ungkap Van de Weerdt.

Meskipun menghadapi tantangan berat, upaya untuk meningkatkan sistem kesehatan di Gaza terus berjalan. WHO telah berhasil menambah 128 tempat tidur di Rumah Sakit Al-Shifa.

Namun, Van de Weerdt menekankan pentingnya perlindungan bagi petugas kesehatan dan jaminan akses bebas hambatan untuk pasokan medis ke Jalur Gaza. “Namun, agar penyelamatan nyawa memiliki dampak, kesehatan dan petugas kesehatan harus dilindungi dan obat-obatan serta pasokan penting harus masuk ke Gaza, termasuk penghapusan proses birokrasi dan pembatasan akses terhadap medis dan pasokan penting yang diakui secara global,” tegasnya.

Terkait evakuasi medis, Van de Weerdt menjelaskan bahwa proses ini sangat rumit dari sudut pandang keamanan dan logistik. Namun, yang terpenting adalah hak pasien untuk dirawat di tempat tinggal mereka, yang berarti pasokan medis harus dapat masuk ke Gaza.

Pasien dapat meninggalkan Gaza menuju rumah sakit di Yerusalem Timur atau Tepi Barat melalui perbatasan Rafah, menuju Mesir dan dari sana ke negara lain, serta baru-baru ini juga kembali ke Yordania. Evakuasi medis terakhir tercatat pada 23 April, melalui Rafah, untuk 47 pasien dan 86 pendamping.