Seekor Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) dilaporkan berkeliaran di area perkebunan kelapa sawit di Dusun 04, Desa Teluk Masjid, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau telah mengonfirmasi keberadaan satwa dilindungi tersebut, sekaligus meluruskan informasi yang beredar di masyarakat bahwa tidak ada warga yang diterkam.

Perjumpaan langsung dengan harimau itu dialami oleh seorang warga bernama Zulfikar pada Kamis, 8 Januari 2026, sekitar pukul 19.00 WIB. Saat itu, Zulfikar sedang dalam perjalanan menyusul dua rekannya yang memancing di perkebunan sawit milik Koperasi Tinera Jaya.

Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, menjelaskan, Zulfikar awalnya merasakan seperti diawasi dan menduga sorot mata yang dilihatnya adalah milik sapi. “Saksi awalnya menduga sorot mata itu milik sapi,” kata Ujang, Minggu (11/1).

Namun, setelah mengarahkan lampu senter, Zulfikar terkejut melihat seekor Harimau Sumatra berjarak sekitar empat meter dari posisinya, terpisah oleh parit. Dalam kondisi ketakutan, ia segera menjauh dan mencari perlindungan di sebuah pondok pekerja koperasi, sekaligus memperingatkan kedua rekannya.

BBKSDA Riau Pastikan Tidak Ada Warga Diterkam

Menanggapi laporan tersebut, tim BBKSDA Riau segera diterjunkan ke lokasi pada Jumat, 9 Januari 2026, untuk melakukan pengecekan dan berkoordinasi dengan pemerintah desa. Hasil pengecekan lapangan mengonfirmasi keberadaan harimau dengan ditemukannya jejak kaki berukuran sekitar 12 sentimeter.

“Hasil pengecekan lapangan yang dilakukan pada Jumat (9/1) menemukan jejak harimau Sumatra berukuran sekitar 12 centimeter di area perkebunan sawit Koperasi Tinera Jaya, tepatnya di koordinat 1,047200 Lintang Utara dan 102,155600 Bujur Timur,” ungkap Ujang.

Ujang menegaskan bahwa informasi mengenai warga yang diterkam harimau adalah tidak benar. Pihaknya telah mengonfirmasi langsung kepada saksi dan meluruskan kabar yang sempat beredar keliru.

“Tidak benar ada warga yang diterkam harimau. Yang terjadi adalah perjumpaan langsung antara manusia dan Harimau Sumatra. Selain itu, sapi yang dilepas juga tidak berada di area perjumpaan,” jelas Ujang.

Imbauan Kewaspadaan untuk Masyarakat

Dari hasil pengecekan, tim BBKSDA Riau juga menemukan jejak harimau yang mengarah ke kawasan Hutan Produksi (HP), sekitar empat kilometer dari titik perjumpaan. Berdasarkan temuan ini, tim memperkirakan hanya ada satu ekor harimau yang melintas di lokasi tersebut.

“Berdasarkan temuan tersebut, tim memperkirakan hanya satu ekor harimau yang melintas di lokasi itu,” ujarnya.

Atas temuan ini, BBKSDA Riau telah melakukan sosialisasi dan memberikan imbauan kepada masyarakat melalui pemerintah desa agar meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta untuk tidak beraktivitas sendirian dan mengutamakan kegiatan secara berkelompok.

“Tim meminta warga untuk tidak beraktivitas sendirian, mengutamakan kegiatan secara berkelompok, serta menghindari aktivitas terlalu pagi, sore, dan malam hari yang merupakan waktu aktif Harimau Sumatra,” terang Ujang.

BBKSDA Riau juga memastikan akan terus melakukan pemantauan dan koordinasi lintas pihak untuk mengantisipasi potensi konflik satwa liar dengan manusia di wilayah tersebut. Masyarakat diimbau untuk segera melaporkan jika mendapatkan informasi terbaru terkait keberadaan satwa.

“Jika masyarakat mendapatkan informasi terbaru terkait keberadaan satwa, segera laporkan kepada BBKSDA Riau atau aparat setempat seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas,” pungkas Ujang.