Utusan Amerika Serikat (AS) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, pada Minggu (22/3) mengungkapkan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi telah berkomitmen untuk mengerahkan sebagian angkatan lautnya dalam operasi di Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional menyusul serangan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Waltz menjelaskan pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur vital energi global. “Karena begitu banyak energi yang dikirim ke Eropa melalui selat tersebut, Perdana Menteri Jepang baru saja berkomitmen untuk mengerahkan sebagian angkatan lautnya, dan 80 persen dari energi yang keluar dari Teluk dikirim ke Asia,” kata Waltz dalam sebuah wawancara dengan CBS News.
Ia menambahkan bahwa langkah ini menunjukkan respons sekutu terhadap situasi tersebut. “Jadi, kami melihat sekutu kita berbalik arah sebagaimana mestinya, tetapi pada saat yang sama, presiden (Donald Trump) tidak akan mentolerir rezim ini, karena telah mengancam dan mencoba selama lima dekade untuk menyandera pasokan energi dunia,” tegas Waltz.
Jepang juga sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan pengerahan Pasukan Bela Diri (SDF) untuk operasi penyapuan ranjau di Selat Hormuz. Namun, pengerahan ini akan dipertimbangkan jika gencatan senjata tercapai antara Iran, AS, dan Israel.
Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menyoroti kapabilitas negaranya dalam bidang tersebut. “Teknologi penyapu ranjau Jepang berada di tingkat teratas di dunia. Katakanlah (jika terjadi) gencatan senjata, dan jika ranjau menjadi penghalang, kita mungkin perlu mempertimbangkannya,” ujar Motegi.
Motegi, yang menghadiri pembicaraan puncak Jepang-AS di Washington pada Kamis pekan lalu, mengklarifikasi bahwa “tidak ada janji khusus” yang dibuat dan tidak ada masalah yang memerlukan pertimbangan lebih lanjut di Tokyo terkait pengerahan tersebut.
Konflik di Timur Tengah semakin memanas sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari. Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal berulang yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Bagi Jepang, Selat Hormuz sangat krusial karena sekitar 90 persen minyak mentah yang diimpor negara itu berasal dari Timur Tengah dan sebagian besar melewati jalur air tersebut.
