Mataram – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berhasil mengembangkan teknologi inovatif untuk mengubah limbah air lindi dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kebon Kongok menjadi energi alternatif biogas dan pupuk cair organik. Inisiatif ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat serta fasilitas umum di sekitar TPA.
Kepala BRIDA NTB, I Gede Putu Aryadi, menjelaskan bahwa riset kolaboratif ini melibatkan Yayasan Rumah Energi dan berbagai pemangku kepentingan. “Biogas tersebut ditargetkan untuk lokasi yang terdampak langsung dari adanya aktivitas TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) serta untuk mendukung fasilitas-fasilitas pendidikan, sosial, dan ibadah yang ada di sekitar lokasi,” ujar Aryadi di Mataram, Senin (9/3/2026).
Potensi Energi dari Limbah
Pada tahun 2025, riset tersebut sukses menciptakan prototipe mesin pengolah limbah air lindi. Hasilnya menunjukkan bahwa air lindi, yang selama ini dikenal sebagai sumber pencemaran dan bau menyengat, memiliki potensi besar sebagai sumber energi alternatif. Aryadi menegaskan, “Di balik bau anyir air lindi ternyata tersimpan energi alternatif berupa biogas yang bermanfaat.”
TPA Kebon Kongok, yang menampung sampah dari Lombok Barat dan Kota Mataram, menghasilkan sekitar 50 meter kubik air lindi setiap hari. Aryadi menambahkan, pengolahan limbah cair ini dengan teknologi yang tepat dapat menghasilkan biogas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi puluhan hingga ratusan warga di sekitar lokasi. Selain biogas, proses ini juga menghasilkan pupuk cair organik yang bermanfaat bagi petani.
Langkah Implementasi dan Percontohan Nasional
Untuk memastikan program berjalan lancar, BRIDA NTB bersama Yayasan Rumah Energi dan aparatur Desa Sukamakmur telah membahas mekanisme penyaluran biogas kepada masyarakat sekitar TPA Kebon Kongok pada 6 Maret 2026. Pertemuan tersebut fokus pada tata cara pengaliran biogas ke rumah penduduk terdekat atau fasilitas umum.
Aryadi menyatakan bahwa riset air lindi di TPA Kebon Kongok ini merupakan yang pertama di Indonesia dan akan menjadi percontohan bagi wilayah lain. “Riset air lindi di TPA Kebon Kongok adalah satu-satunya yang ada di Indonesia saat ini dan akan menjadi percontohan bagi wilayah lain,” katanya.
BRIDA NTB bersama tim peneliti akan segera melakukan pemetaan lokasi dan penyusunan denah titik instalasi jaringan biogas. Pemerintah desa juga didorong untuk menyiapkan regulasi sebagai landasan pengelolaan dan pemanfaatan biogas oleh masyarakat, termasuk melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) demi keberlanjutan program.
“Kami mengimbau pemerintah desa melakukan manajemen risiko, analisis kemanfaatan, dan menerapkan prinsip keadilan dalam distribusi program biogas tersebut di lapangan,” pungkas Aryadi.
