Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI, Hariqo Wibawa Satria, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak akan mengganggu alokasi anggaran pendidikan nasional. Sebaliknya, ia menyatakan bahwa insentif bagi guru honorer justru akan mengalami peningkatan signifikan.

Penegasan ini disampaikan Hariqo dalam siniar “Menjawab Kontroversi Makan Bergizi Gratis (MBG)” yang diselenggarakan bersama ANTARA di Jakarta pada Kamis (5/3/2026). Ia berupaya meluruskan narasi yang berkembang di masyarakat, yang menyebutkan bahwa Program MBG akan menyedot sebagian besar alokasi APBN dari sektor pendidikan.

MBG dan Pendidikan Saling Melengkapi

Menurut Hariqo, Program MBG dan sektor pendidikan justru merupakan dua program yang saling melengkapi dalam upaya mewujudkan “generasi emas 2045”.

“Pada tahun 2026, insentif guru honorer naik menjadi Rp400.000 per bulan (insentif bukan gaji, melainkan pendapatan tambahan selain gaji). Kemudian, Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi guru honorer juga naik dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan,” ungkap Hariqo dalam siniar tersebut.

Selain itu, sesuai perintah Presiden, seluruh guru, staf sekolah, para ustadz di pesantren, dan tenaga kependidikan lainnya juga akan mendapatkan Program MBG. Ketentuan mengenai pembagian MBG kepada seluruh tenaga kependidikan ini telah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 115 tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG pada pasal 4.

Revitalisasi Sekolah dan Fasilitas Canggih

Hariqo juga membantah informasi yang menyebutkan adanya sekolah terbengkalai akibat implementasi MBG. Ia menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2025, sebanyak 16 ribu sekolah telah berhasil diperbaiki. Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan revitalisasi dan kelengkapan fasilitas pada 71 ribu sekolah lainnya.

“Ini revitalisasi sekolah terbesar di era reformasi. Sebanyak 288 ribu sekolah juga telah mendapatkan fasilitas canggih penunjang belajar, namanya Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital,” jelas Hariqo.

Lebih lanjut, selama 16 bulan masa jabatannya, Presiden Prabowo Subianto telah mendirikan 166 Sekolah Rakyat. Sekolah-sekolah ini ditujukan khusus bagi anak-anak dari keluarga yang mengalami kemiskinan ekstrem, dengan fasilitas 100 persen gratis, berasrama, serta secara bertahap setiap siswa dan guru akan mendapatkan satu laptop.

Program pendidikan lainnya yang telah beroperasi adalah Sekolah Garuda, yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah anak Indonesia yang dapat melanjutkan studi di kampus-kampus terbaik dunia. “Beasiswa Garuda juga sudah berjalan. Program Magang Nasional yang digaji juga turut membantu anak-anak bangsa dan sedang berlangsung, yang menargetkan 100 ribu lulusan baru diploma 1 dan strata 1,” pungkasnya.

sumber gambar: ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari