Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, pada Rabu (4/3) mengumumkan bahwa Beijing akan mengirim utusan khusus ke Timur Tengah. Langkah ini diambil untuk melibatkan negara-negara regional dalam upaya mediasi guna meredakan ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan Wang Yi saat melakukan panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan Al Saud, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Xinhua. Dalam percakapan terpisah dengan Menlu Uni Emirat Arab (UEA), Abdullah bin Zayed Al Nahyan, Wang Yi menekankan bahwa di tengah konflik, “garis merah untuk melindungi warga sipil tidak boleh dilanggar.” Ia juga menegaskan dukungan Beijing terhadap penyelesaian sengketa melalui jalur diplomasi.
Wang Yi juga menghubungi Menlu Israel, Gideon Sa’ar, dan menyatakan bahwa penggunaan kekuatan militer terhadap Iran tidak akan menyelesaikan krisis. Sebelumnya, Wang juga mendesak Menlu Iran, Abbas Araghchi, untuk menanggapi “kekhawatiran yang wajar” dari negara-negara tetangga dalam sebuah percakapan telepon.
Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran mulai 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 850 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, dan lebih dari 150 siswi sekolah dasar, menurut pihak berwenang Iran. Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan situs-situs terkait AS di negara-negara Teluk, menyebabkan banyak korban jiwa, termasuk enam anggota militer AS yang tewas dan beberapa lainnya terluka.
China telah berulang kali menyuarakan penentangannya terhadap serangan AS dan Israel terhadap Iran. Pada pertemuan Dewan Keamanan PBB, Senin lalu, Beijing mengutuk serangan yang menargetkan anak-anak di zona konflik, menyusul laporan serangan udara Israel yang menewaskan puluhan siswi di Iran.
sumber gambar: gesit.id 