Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir mengenai cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Menurutnya, PT Pertamina (Persero) sebagai BUMN energi terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga ketersediaan pasokan BBM secara berkelanjutan di tengah dinamika geopolitik global.

Pernyataan Tauhid ini merespons kekhawatiran publik terkait level cadangan BBM Indonesia yang saat ini disebut sekitar 20 hari. Ia menjelaskan bahwa angka tersebut tidak berarti cadangan akan habis jika Pertamina terus melakukan langkah-langkah penstabilan pasokan.

Pertamina Jaga Stabilitas Pasokan dan Cadangan

“Tetapi harus diingat bahwa seperti reguler dilakukan, saat ini pun Pertamina tentu melakukan langkah-langkah penstabilan pasokan guna menjaga level cadangan,” ujar Tauhid di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Ia menambahkan, level cadangan BBM yang ada saat ini sesuai dengan aturan yang berlaku. Laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Desember 2025 menunjukkan bahwa sebagian besar jenis BBM di Indonesia berada di atas standar minimum cadangan yang ditetapkan, yakni sekitar 19 hingga 31 hari untuk berbagai produk BBM tertentu.

Hal ini juga sejalan dengan Peraturan BPH Migas Nomor 9 Tahun 2020 tentang Penyediaan Cadangan Operasional Bahan Bakar Minyak. Regulasi tersebut mewajibkan pemegang izin usaha untuk menyediakan Cadangan Operasional BBM dengan cakupan waktu paling singkat selama 23 hari.

Tauhid menjelaskan, pencadangan bukan hanya soal ketersediaan bahan baku, tetapi juga melibatkan dana untuk stok, gudang penyimpanan, jalur distribusi, hingga pengapalan. Oleh karena itu, ia menilai positif berbagai perencanaan pasokan yang dilakukan Pertamina, mulai dari produksi kilang hingga impor energi, demi menjaga cadangan tetap aman.

Diversifikasi Impor Minyak Mentah Jadi Kunci

Salah satu langkah strategis yang disoroti Tauhid adalah upaya Pertamina dan pemerintah dalam mengalihkan impor minyak mentah dari kawasan Arab. Di tengah kondisi kawasan Teluk yang terus memanas, pengalihan impor ke negara-negara seperti Brasil atau Amerika Serikat dianggap sebagai pilihan yang tepat.

“Menurut saya itu pilihan baik, karena kawasan itu kan bebas dari konflik saat ini,” jelasnya.

Saat ini, sekitar 20 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Arab Saudi. Selain itu, Indonesia juga mendatangkan pasokan dari Nigeria serta Angola. Tauhid menganjurkan agar kontrak-kontrak impor minyak mentah segera dilakukan, mengingat harga komoditas ini terus meningkat di tengah gejolak konflik AS-Israel dengan Iran.

Ia mengingatkan, jika impor dilakukan saat harga minyak mentah mencapai 100 dolar AS per barel dari harga saat ini yang sekitar 78 dolar AS, hal itu dapat membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena defisitnya berpotensi melampaui 3 persen.

Lebih lanjut, Tauhid menyarankan agar kuota cadangan BBM Indonesia ditambah hingga mencukupi sekitar 1-2 bulan. Langkah ini penting untuk mengantisipasi potensi terkendalanya jalur-jalur distribusi dunia akibat konflik, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz.

Pertamina juga diharapkan menyiapkan rencana cadangan darurat jika situasi geopolitik terus memburuk, guna memastikan kebutuhan BBM masyarakat tidak terganggu.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa cadangan BBM nasional cukup untuk 20 hari. Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil usai menghadiri rapat mengenai kondisi geopolitik terkini di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (2/3/2026).

sumber gambar: gesit.id