Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA menegaskan komitmennya untuk mendorong upaya perdamaian di Timur Tengah. Langkah ini dilakukan melalui pemberitaan yang akurat dan terverifikasi, sekaligus memperkuat dorongan diplomasi internasional di tengah situasi konflik global.
Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, di Jakarta pada Rabu (4/3/2026), menyatakan bahwa media arus utama memiliki tanggung jawab besar dalam menghadirkan informasi yang dapat mendorong penyelesaian konflik secara damai. Ia menyoroti peningkatan ketidakpastian akibat perang dan krisis global, yang menuntut kantor berita seperti ANTARA untuk meningkatkan intensitas pemberitaan.
“Nah itu yang harus kita lawan. Karena dalam situasi perang, situasi krisis di mana ketidakpastian muncul, institusi media yang mainstream, institusi kayak media kita ANTARA, kantor berita, itu harus meningkatkan intensitas pemberitaannya, meningkatkan masifitas berita dari dalam dan luar,” ujar Benny.
Pemberitaan tersebut, lanjut Benny, juga perlu memperkuat penyampaian sikap resmi pemerintah Indonesia terhadap konflik. Ia berharap sikap ini dapat dieskalasi menjadi tekanan politik yang lebih luas, tidak hanya dari Indonesia tetapi juga dari negara-negara lain yang memiliki prinsip serupa.
“Kenapa? Karena banyak negara dengan prinsip yang sama dengan Indonesia menentang penjajah, menentang perang yang menghancurkan kehidupan sipil dan ekonomi global,” tambahnya.
Eskalasi pemberitaan dapat melibatkan perspektif kawasan seperti negara-negara ASEAN dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Indonesia juga memiliki posisi strategis sebagai ketua D-8, yang dapat memperkuat suara kolektif negara-negara berkembang. Melalui pendekatan ini, pemberitaan diharapkan dapat memperluas tekanan politik internasional, mendorong pihak-pihak berkonflik kembali ke jalur diplomasi.
“Karena kita tujuannya adalah membawa ke meja perundingan. Meja perundingan itu akan dimanfaatkan. Ada keraguan tapi itu harus kita coba tembus dengan sebuah tawaran, dan saya yakin Bapak Presiden itu punya tawaran,” kata Benny.
Selain memperkuat pemberitaan, ANTARA berkomitmen menjaga kualitas informasi dengan sistem verifikasi ketat. Hal ini untuk memastikan berita yang disampaikan tetap akurat dan tidak memperkeruh situasi. “Karena kita kan juga punya alat verifikasinya. Jadi kita ada berita yang kayak apa, ya kita akan jelaskan dari kepentingan Indonesia, kepentingan negara-negara sahabat juga,” jelas Benny.
ANTARA juga menempatkan reporter di Arab Saudi untuk memantau langsung perkembangan situasi di Timur Tengah. Namun, penugasan ini memiliki risiko tinggi mengingat kawasan tersebut berada dalam situasi konflik. “Kita menaruh reporter kita di Saudi untuk memantau langsung perkembangan apa yang ada di Timur Tengah, tapi dalam status yang cukup riskan, karena Saudi juga dalam situasi perang. Tapi itulah risiko jadi wartawan, membangun trust, membangun kapasitas kantor berita kita sendiri,” ungkap Benny.
Konflik Memanas dan Tawaran Mediasi Indonesia
Seperti diketahui, Amerika Serikat (AS) dan Israel telah melakukan serangkaian serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Iran menanggapi dengan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai tindakan pembelaan diri.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Minggu (1/3) menyatakan bahwa angkatan udara Iran telah melancarkan gelombang serangan kesembilan, yang disebut “Operasi True Promise 4”, terhadap target-target di seluruh wilayah pendudukan dan target-target AS di Timur Tengah. IRGC juga mengklaim telah menghancurkan sistem pertahanan rudal THAAD dalam serangan di Al Dhannah, Uni Emirat Arab.
Imbas konflik ini, sekitar 200 kapal tanker terjebak di pintu masuk Selat Hormuz di Teluk Oman pada Selasa (3/3), menambah jumlah total kapal yang terjebak menjadi 300 kendaraan, menurut data MarineTraffic yang dianalisis RIA Novosti. Saat ini, tidak ada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, yang secara geografis pantai utaranya milik Iran, sementara pantai selatannya dibagi antara Uni Emirat Arab dan Oman.
Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto siap menjadi mediator apabila Iran dan Amerika Serikat berkeinginan untuk membuka ruang mediasi. “Jika kedua belah pihak berkeinginan (mediasi), ya kita, Pak Presiden bersedia untuk menjadi mediator. Tetapi kalau misalnya ada pandangan seperti itu (kemungkinan tidak ada negosiasi lanjutan), ya kita kembalikan kepada mereka,” ujar Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3).
Pernyataan Sugiono ini disampaikan menanggapi perkembangan sikap Iran terkait kemungkinan tidak adanya negosiasi lanjutan dengan Amerika Serikat.
sumber gambar: antaranews.com 