Wakil Bupati Lombok Barat, Hj. Nurul Adha, menegaskan bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya dengan pemberian susu khusus. Ia mendorong pendampingan total keluarga melalui intervensi spesifik dan konvergensi lintas sektor untuk mencapai percepatan penurunan angka stunting di wilayahnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Nurul Adha saat memberikan pembekalan dan monitoring kepada bidan asuh yang menangani balita berisiko stunting. Acara ini berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Lombok Barat pada Rabu, 4 Februari 2026.

Fokus Intervensi Spesifik dan Keterlibatan Dokter Anak

Nurul Adha menjelaskan, fokus pada intervensi spesifik menjadi kunci percepatan penanganan stunting. Kebijakan ini lahir dari evaluasi mendalam terhadap lambannya pencapaian target penurunan stunting sebelumnya.

“Sejak saya menjadi Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting, kami memilih fokus pada intervensi spesifik karena di sanalah kunci percepatan berada. Kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anak stunting, bukan hanya bergerak berdasarkan asumsi,” kata Nurul Adha.

Salah satu temuan penting adalah belum optimalnya pelibatan dokter spesialis anak. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat menggandeng Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk melakukan skrining langsung terhadap balita stunting usia 0–2 tahun.

Hasilnya, sekitar 1.500 anak stunting berhasil teridentifikasi secara detail, mulai dari kondisi medis hingga kebutuhan gizinya. Lombok Barat menjadi satu-satunya daerah di NTB yang melibatkan dokter spesialis anak secara langsung dalam program intervensi spesifik, sebuah langkah yang mendapat apresiasi dari pemerintah provinsi.

Peran Strategis Bidan Asuh dan Pendampingan Berkelanjutan

Nurul Adha menekankan bahwa pemberian susu khusus sebagai bagian dari intervensi spesifik tidak dapat berdiri sendiri. Tingkat keberhasilan sangat bergantung pada kepatuhan konsumsi dan pendampingan berkelanjutan dari keluarga dan bidan.

Evaluasi terakhir menunjukkan tingkat kepatuhan minum susu baru mencapai sekitar 80 persen, yang berbanding lurus dengan capaian perbaikan status gizi anak. “Semakin kuat pendampingan, semakin besar peluang anak keluar dari stunting. Karena itu peran bidan asuh sangat strategis, tidak hanya memberi, tapi memastikan,” ujarnya.

Penguatan Intervensi Sensitif Lintas Sektor

Selain intervensi spesifik, Wakil Bupati juga menyoroti pentingnya penguatan intervensi sensitif yang melibatkan banyak sektor. Ini mencakup pendidikan, sanitasi, perumahan layak, pengentasan kemiskinan, hingga pencegahan perkawinan anak.

Menurutnya, stunting kerap ditemukan pada keluarga miskin dengan rumah tidak layak huni, sanitasi buruk, serta pola asuh dan konsumsi pangan yang tidak sehat.

Ia mendorong Ikatan Bidan Indonesia (IBI) untuk mengambil peran lebih terstruktur dalam pendampingan sensitif, dengan pembagian tugas yang jelas hingga tingkat desa. Setiap bidan diharapkan memiliki indikator kinerja yang terukur dalam mendampingi anak dan keluarga berisiko stunting.

“Kalau peran IBI ini efektif dan terukur, kami siap memperkuat dukungan anggaran. Saya yakin bidan adalah ujung tombak yang sangat memahami persoalan ibu dan anak,” tegas Nurul Adha.

Target Penurunan Stunting 2026

Dengan sinergi antara bidan, PKK, OPD terkait, dan masyarakat, Nurul Adha optimistis Lombok Barat mampu menurunkan angka stunting hingga enam persen pada tahun 2026.

“Kalau kita bekerja bersama, target itu bukan sesuatu yang mustahil,” pungkasnya.