Presiden Lebanon Joseph Aoun pada Senin menegaskan komitmen negaranya terhadap jalur perundingan. Ia menyatakan Lebanon siap mempercepat persiapan negosiasi dengan dukungan Amerika Serikat, di tengah situasi regional yang sensitif.
“Kami siap mempercepat laju negosiasi sejauh Amerika Serikat melakukannya. Tidak ada jalan keluar selain proses ini karena melayani kepentingan seluruh rakyat Lebanon,” kata Aoun saat bertemu delegasi blok parlemen Strong Republic.
Aoun menekankan bahwa situasi saat ini sangat rapuh dan menuntut penguatan persatuan nasional. Ia menilai, hanya melalui konsolidasi internal, Lebanon dapat menghadapi tantangan politik dan keamanan yang semakin kompleks.
Menurut Aoun, pertemuan persiapan ketiga yang melibatkan duta besar Lebanon untuk Washington dijadwalkan dalam beberapa hari mendatang. Pertemuan ini bertujuan untuk membuka jalan bagi dimulainya pembicaraan di bawah naungan AS.
Ia menyebut langkah tersebut sebagai capaian penting, sekaligus menyoroti perhatian langsung yang diberikan Presiden AS Donald Trump terhadap perkembangan Lebanon dalam konteks upaya mendorong stabilitas kawasan.
Aoun menegaskan tujuan perundingan tidak berubah, yakni penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang diduduki serta pemulangan para tahanan sebagai bagian dari penyelesaian yang lebih luas. Hal ini menjadi krusial mengingat insiden pada 2 Mei 2026, ketika asap mengepul dari kota Kafr Jouz di provinsi Nabatieh setelah pasukan Israel menargetkan daerah tersebut, melanggar gencatan senjata di Lebanon selatan.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya dukungan terhadap militer dan institusi negara sebagai pilar utama stabilitas, di tengah tekanan ekonomi dan politik yang terus membebani Lebanon dalam beberapa tahun terakhir.
Aoun menyerukan seluruh kekuatan politik untuk bersatu di belakang negara, seraya menegaskan bahwa rakyat Lebanon telah lelah menghadapi konflik berkepanjangan dan dampak destruktif yang ditimbulkannya.
