Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengambil langkah antisipatif untuk menjamin ketersediaan pasokan kebutuhan pokok masyarakat menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan pemantauan harga dan stok bersama dinas terkait, di tengah dinamika inflasi yang dipicu kenaikan harga emas.
Asisten II Sekretariat Daerah Kota Mataram, H Miftahurrahman, menyatakan bahwa pihaknya akan kembali mengimplementasikan program Kolaborasi Pasar Keliling (Kopling) menjelang Ramadhan. Program ini bertujuan untuk memastikan stok kebutuhan pokok tetap aman dan harganya terkendali.
“Kami kembali akan melaksanakan Kolaborasi Pasar Keliling (Kopling) menjelang Ramadhan untuk memastikan stok aman dan harga terkendali,” ujar Miftahurrahman di Mataram, Selasa (3/2/2026).
Kopling merupakan inisiatif kolaboratif yang melibatkan sejumlah distributor, Perum Bulog, dan Bank Indonesia (BI), serta petani binaan. Melalui kerja sama ini, harga kebutuhan pokok yang ditawarkan di Kopling diharapkan lebih terjangkau dibandingkan harga pasar.
“Prinsipnya, kami akan melakukan berbagi upaya untuk menstabilkan harga agar kebutuhan pokok masyarakat selama Ramadhan hingga Idul Fitri terpenuhi,” tegasnya.
Selain fokus pada ketersediaan pangan, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Mataram juga menyoroti kondisi inflasi. Miftahurrahman menjelaskan bahwa inflasi Kota Mataram pada awal tahun 2026 menunjukkan dinamika, dengan kenaikan harga emas sebagai pendorong utama inflasi Januari, sementara harga barang kebutuhan lainnya relatif stabil.
Secara tahunan (year on year), inflasi tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,48 persen. Angka inflasi yang sebelumnya 3,21 persen pada tahun 2025, meningkat menjadi 3,69 persen pada Januari 2026.
“Secara year on year inflasi terjadi kenaikan 0,48 persen,” kata Miftahurrahman usai memimpin rapat TPID Kota Mataram.
Tekanan inflasi tersebut, menurut Miftahurrahman, bersumber dari kelompok harga yang ditentukan oleh mekanisme pasar global, khususnya komoditas emas yang mengalami lonjakan harga hingga mencapai Rp3 juta per gram.
“Harga emas sangat berpengaruh karena sifatnya nasional. Jika emas naik, dampaknya dirasakan semua daerah,” jelasnya.
Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa inflasi Kota Mataram masih menjadi yang terendah di Provinsi NTB. Inflasi tahunan NTB secara keseluruhan tercatat sebesar 3,86 persen.
“Posisi Kota Mataram masih di bawah provinsi dan daerah lain di NTB,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida, memastikan bahwa harga kebutuhan pokok di Kota Mataram masih terkendali dengan baik.
“Untuk kebutuhan pokok, sejauh ini kondisinya masih normal,” kata Sri Wahyunida.
