Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menggelar musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) tematik kebencanaan. Kegiatan ini difokuskan untuk membahas dan menyelesaikan lima persoalan krusial dalam upaya memperkuat mitigasi bencana di wilayah tersebut, sebagai bagian dari usulan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2027.
Lima Persoalan Utama Mitigasi Bencana
“Ada lima persoalan yang harus dilaksanakan dalam membangun sektor kebencanaan di Lombok Tengah,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Baperida) Lombok Tengah, Lalu Wiranata, pada Selasa (17/3/2026) saat acara musrenbang.
Ia menjelaskan, lima poin utama yang menjadi fokus penyelesaian meliputi:
- Keterbatasan sarana dan prasarana mitigasi bencana.
- Peningkatan kompetensi petugas serta jumlah sumber daya manusia (SDM) di bidang kebencanaan.
- Dokumen kebencanaan yang masih berupa program kegiatan.
- Belum semua desa di Lombok Tengah menjadi desa tangguh bencana.
- Integritas program lintas sektoral yang belum maksimal.
Wiranata menambahkan, terkait desa tangguh bencana, saat ini baru 54 desa yang berstatus tersebut. “Total desa tangguh bencana di Lombok Tengah baru 54 desa dan tahun ini harus diselesaikan, agar semua desa menjadi desa tangguh bencana,” tegasnya.
Selain itu, integrasi program dari pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten juga disoroti belum terintegrasi secara maksimal. “Program dari pemerintah pusat dan daerah itu seharusnya terintegrasi, sehingga dapat mengurangi resiko bencana,” katanya.
Strategi Pengurangan Risiko Bencana dalam RKPD 2027
Musrenbang tematik ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk mengintegrasikan isu pengurangan risiko bencana (PRB) ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah. Kegiatan ini secara khusus menyelaraskan berbagai program dan kebijakan PRB dengan penyusunan RKPD Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2027.
Berdasarkan data dari BPBD Lombok Tengah, wilayah ini berpotensi tinggi mengalami sejumlah bencana hidrometeorologi. “Ada lima bencana yang dominan terjadi di Lombok Tengah seperti yang disampaikan BPBD Lombok Tengah,” ungkap Wiranata, merujuk pada banjir, tanah longsor, kekeringan, gempa bumi, dan angin kencang.
