Nusa Tenggara Barat (NTB) dilanda 52 kejadian bencana alam sepanjang Januari 2026, menyebabkan dua orang meninggal dunia dan puluhan ribu jiwa terdampak. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB menunjukkan, bencana tersebut tersebar di berbagai wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa.
Kepala BPBD NTB Sadimin di Mataram, Senin (2/2/2026), mengungkapkan bahwa dari total 52 kejadian, banjir menjadi bencana yang paling dominan dengan 26 insiden. Disusul oleh cuaca ekstrem sebanyak 22 kejadian, tanah longsor dua kejadian, dan gelombang pasang atau abrasi juga dua kejadian. “Sedangkan untuk bencana gempa bumi, karhutla, kekeringan, erupsi gunung api, dan tsunami tercatat nol kejadian pada periode ini,” ujarnya.
Akibat rentetan bencana ini, BPBD NTB mencatat dua orang meninggal dunia, sembilan orang mengalami luka-luka, dan sebanyak 44.058 jiwa terdampak langsung. Kerusakan infrastruktur permukiman juga masif. Sadimin merinci, “Rumah rusak yakni 428 unit, terdiri atas 23 rumah rusak berat, 35 rumah rusak sedang, 370 rumah rusak ringan, dan untuk jumlah rumah terendam mencapai 12.944 rumah.”
Dari 10 kabupaten dan kota di NTB, Kabupaten Bima menjadi wilayah yang paling sering dilanda bencana dengan 12 kejadian. Disusul oleh Kabupaten Lombok Barat (11 kejadian), Lombok Tengah (9 kejadian), Dompu (7 kejadian), Sumbawa (4 kejadian), Lombok Utara (3 kejadian), dan Kota Mataram (3 kejadian). Sementara itu, Sumbawa Barat mencatat dua kejadian, Lombok Timur satu kejadian, dan Kota Bima menjadi satu-satunya wilayah yang nihil bencana.
Selain merusak rumah warga dan menimbulkan korban jiwa, bencana alam ini juga berdampak signifikan pada pelayanan dasar serta sarana dan prasarana vital, meliputi:
- Tiga perkantoran
- 24 fasilitas pendidikan
- Lima fasilitas kesehatan
- Tujuh jembatan
- 130 meter jalan
- 18 meter tanggul
- 14 jaringan listrik
- 700 meter jaringan air bersih
Dampak sosial ekonomi juga tidak terhindarkan. Sadimin menambahkan, “Bencana ini juga berdampak pada sosial ekonomi berupa 1.306 meter sawah rusak, 60 hektare tambak, dan 16 pertokoan atau warung.”
Menyikapi kondisi ini, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal sebelumnya telah memastikan alokasi anggaran tanggap bencana alam menggunakan Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp16 miliar. “Anggaran Rp16 miliar itu jumlah uang yang tersedia di BTT. Yang dikeluarkan berapa, nanti tergantung hasil analisa terhadap kebutuhan apa yang mau diselesaikan,” ujar Gubernur.
