Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) pada Minggu (3/5) mengumumkan peluncuran inisiatif baru bernama “Project Freedom”. Program ini bertujuan untuk mendukung kapal dagang yang ingin melintas secara bebas di Selat Hormuz, sebuah jalur maritim strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.

CENTCOM menyatakan melalui platform media sosial X bahwa pasukannya akan mulai mendukung Project Freedom pada Senin, 4 Mei 2026. Langkah ini diambil untuk memulihkan kebebasan navigasi bagi pelayaran komersial di Selat Hormuz yang belakangan kerap mengalami gangguan.

Dalam pelaksanaannya, dukungan terhadap kapal dagang yang melintasi selat tersebut akan melibatkan berbagai aset militer. CENTCOM mengerahkan kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, platform nirawak multi-domain, serta 15.000 personel militer.

Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper menegaskan pentingnya misi ini. “Dukungan kami terhadap misi pertahanan ini sangat penting bagi keamanan kawasan dan perekonomian global, sambil kami tetap mempertahankan blokade laut,” ujar Laksamana Cooper.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengumumkan inisiatif ini melalui platform Truth Social. Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mulai mengawal kapal asing netral keluar dari Selat Hormuz dengan aman mulai Senin pagi waktu Timur Tengah. Ia menggambarkan langkah tersebut sebagai “gestur kemanusiaan” bagi negara-negara yang terdampak konflik tanpa keterlibatan langsung.

Trump menamai inisiatif ini “Project Freedom” karena banyak kapal yang terjebak di wilayah tersebut mulai kekurangan makanan dan kebutuhan penting lainnya untuk menjaga kondisi awak kapal tetap sehat. Langkah ini diambil di tengah gangguan di sekitar Selat Hormuz yang terus memengaruhi pasar global, menyebabkan harga energi, pupuk, dan komoditas industri utama mengalami lonjakan tajam dalam dua bulan terakhir.