Kota Mataram menjadi satu-satunya wilayah Indeks Harga Konsumen (IHK) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mencatatkan deflasi bulanan pada Januari 2026. Penurunan harga komoditas hortikultura menjadi pemicu utama deflasi yang mencapai minus 0,21 persen tersebut.
Ketua Tim Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Muhammad Ahyar, menjelaskan bahwa kondisi ini berbeda dengan Kabupaten Sumbawa dan Kota Bima. Kabupaten Sumbawa dan Kota Bima masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,80 persen dan 0,61 persen pada periode yang sama. “Kota Mataram deflasi, sedangkan dua kota lainnya mengalami inflasi,” ujar Ahyar di Mataram, Senin (2/2/2026).
Penyumbang Deflasi dan Inflasi di Mataram
Ahyar merinci, lima komoditas utama yang menyumbang deflasi di Kota Mataram adalah bawang merah dengan andil 0,13 persen, cabai rawit 0,11 persen, angkutan udara 0,09 persen, daging ayam ras 0,08 persen, dan cabai merah 0,06 persen.
Namun, sejumlah komoditas lain justru mengalami kenaikan harga, yang menahan laju deflasi agar tidak terlalu dalam. Komoditas penyumbang inflasi di Mataram meliputi emas perhiasan sebesar 0,14 persen, nasi dengan lauk 0,04 persen, bawang putih 0,03 persen, cumi-cumi 0,02 persen, dan ikan kembung 0,02 persen.
Inflasi di Sumbawa dan Bima
Sementara itu, inflasi di Kabupaten Sumbawa didominasi oleh kenaikan harga ikan layang dengan andil 0,23 persen, emas perhiasan 0,22 persen, ikan bandeng 0,12 persen, ikan teri 0,12 persen, dan tomat 0,10 persen. Meskipun komoditas hortikultura berupa cabai rawit, cabai merah, bawang merah, kubis, dan wortel menyumbang deflasi di Sumbawa, namun efeknya belum cukup kuat untuk menahan laju inflasi daerah tersebut.
Di Kota Bima, laju inflasi tercatat sebesar 0,61 persen. Lima komoditas penyumbang inflasi tertinggi adalah emas perhiasan 0,19 persen, ikan bandeng 0,10 persen, ikan layang 0,08 persen, ikan bakar 0,04 persen, dan asam 0,04 persen.
Ahyar menambahkan, “Komoditas penyumbang deflasi di Kota Bima, yakni angkutan udara 0,15 persen, cabai rawit 0,04 persen, bawang merah 0,03 persen, cabai merah 0,03 persen, kerudung 0,02 persen.”
Waspada Fluktuasi Harga Jelang Hari Raya
Menyikapi kondisi ini, BPS mengimbau pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi fluktuasi harga, khususnya menjelang momen Ramadhan dan Lebaran. Data historis BPS menunjukkan lonjakan inflasi yang signifikan pada Maret 2025, yang bertepatan dengan periode hari raya tersebut, akibat peningkatan permintaan barang.
Secara tahunan, Kota Mataram juga mencatatkan laju inflasi terendah di NTB, yakni 3,69 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan Kabupaten Sumbawa yang mencapai 3,77 persen dan Kota Bima yang mencatatkan inflasi tahunan sebesar 4,82 persen.
