MATARAM – Antusiasme masyarakat Kota Mataram untuk menunaikan ibadah haji tetap tinggi. Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat rata-rata 5 hingga 10 pendaftar baru setiap harinya, meskipun masa tunggu keberangkatan kini mencapai lebih dari dua dekade.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Kemenhaj Kota Mataram, Khairul Hadi, pada Senin (27/4/2026) mengungkapkan, tingginya animo ini terlihat meski ada perubahan lembaga layanan dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) menjadi Kemenhaj. “Meski dengan keterbatasan petugas, kami berusaha semaksimal mungkin memberikan layanan pendaftaran, sekaligus mempersiapkan dokumen administrasi jamaah calon haji yang berangkat tahun ini,” ujar Khairul Hadi.
Data terbaru menunjukkan, masa tunggu keberangkatan haji di Kota Mataram dan NTB secara umum kini menyentuh angka 26 tahun 4 bulan. Durasi antrean ini, menurut Khairul, tidak lagi bersifat kedaerahan seperti tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini sudah merata di seluruh Indonesia.
“Begitu jamaah mendaftar dengan setoran biaya haji dan mendapatkan nomor porsi hari ini, maka masa tunggunya adalah 26 tahun 4 bulan. Itu sudah berlaku umum dan merata di seluruh Indonesia,” tegasnya.
Melihat panjangnya masa tunggu, Kemenhaj menyarankan masyarakat yang mampu dan memiliki anak atau cucu berusia minimal 12 tahun untuk segera didaftarkan. Tujuannya agar saat nomor porsi mereka tiba, calon jamaah masih dalam usia muda dan sehat.
Untuk mendaftar dan mendapatkan nomor porsi, masyarakat perlu menyetorkan biaya awal sebesar Rp25,5 juta. Dana ini akan menjadi setoran awal Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih), sehingga jamaah hanya perlu melunasi kekurangannya saat tahun keberangkatan.
Khairul Hadi menambahkan, semakin panjangnya daftar tunggu haji di daerah ini juga menjadi indikasi positif, yakni meningkatnya animo umat Muslim untuk melaksanakan Rukun Islam kelima sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menanggapi lamanya masa tunggu tersebut, Kemenhaj telah membahas langkah-langkah strategis dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas). “Fokus utamanya antara lain mengkaji skenario untuk memotong atau memperpendek masa tunggu keberangkatan,” pungkas Khairul Hadi.
