Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), berhasil menekan angka stunting hingga mencapai 9,86 persen pada tahun 2025. Capaian ini jauh di bawah target rata-rata nasional sebesar 14 persen.
Wakil Bupati Lombok Tengah, HM Nursiah, mengungkapkan bahwa penurunan ini menandai pencapaian satu digit untuk pertama kalinya. “Angka stunting di Lombok Tengah telah turun satu digit atau sekitar 8.000 balita,” kata HM Nursiah di Lombok Tengah, Senin (19/01/2026).
Menurut Nursiah, percepatan penurunan stunting menjadi prioritas utama yang melibatkan seluruh pihak, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD) terkait hingga pemerintah desa. Upaya ini dilakukan secara intensif, baik selama jam kerja maupun di luar jam kerja.
Evaluasi program percepatan penurunan stunting juga rutin dilaksanakan secara berkala untuk memastikan efektivitas intervensi. “Evaluasi rutin dilaksanakan secara berkala,” tegas Nursiah.
Meskipun telah mencapai angka satu digit, Nursiah mengingatkan agar semua pihak tidak berpuas diri. Program-program yang telah berjalan, seperti pemberian makanan tambahan dan pencegahan pernikahan anak, akan terus digencarkan. “Semua jangan puas dengan capaian itu. Namun, menjadi motivasi untuk tetap mendukung percepatan penurunan stunting di Lombok Tengah,” ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah, Suardi, menambahkan bahwa angka stunting pada tahun 2025 menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, angka stunting tercatat sebesar 10,15 persen. “Total balita stunting secara absolut itu sebanyak 8.000 jiwa,” jelas Suardi.
Suardi mengidentifikasi pernikahan anak sebagai salah satu penyebab dominan kasus stunting di wilayahnya, di mana rata-rata balita stunting lahir dari pernikahan usia dini. Selain itu, pola asuh dan gizi juga menjadi faktor penting. “Penyebab stunting juga pola asuh dan gizi,” tambahnya.
Oleh karena itu, Suardi berharap partisipasi aktif masyarakat dalam mencegah pernikahan anak. Langkah ini diharapkan dapat berkontribusi lebih lanjut dalam menekan angka stunting di Lombok Tengah.
