Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat sebanyak 103.000 Pasangan Usia Subur (PUS) menjadi peserta aktif program Keluarga Berencana (KB) hingga tahun 2025. Angka ini setara dengan 53 persen dari total 199.000 PUS di wilayah tersebut, namun belum mencapai target 60 persen yang telah ditetapkan.
Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Lombok Tengah, Kusriadi, mengakui bahwa capaian KB aktif pada 2025 belum memenuhi ekspektasi. “Dari total pasangan usia subur 199 ribu, sekitar 53 persen yang menjadi peserta KB aktif,” ujar Kusriadi di Lombok Tengah, Senin (9/2/2026).
Untuk meningkatkan partisipasi, pihaknya terus mengintensifkan edukasi melalui berbagai kegiatan. Kusriadi menegaskan bahwa pelayanan KB yang disediakan pemerintah bersifat gratis bagi masyarakat.
Program KB ini diharapkan dapat berkontribusi pada percepatan penurunan angka stunting. Kehamilan dengan jarak yang terlalu dekat disebut berisiko tinggi terhadap pertumbuhan anak. “Tiga anak cukup, dua anak berkurang,” kata Kusriadi, menekankan pentingnya pengaturan jarak kehamilan.
Selain itu, terlalu sering hamil juga membawa risiko serius terhadap kesehatan ibu. Oleh karena itu, penggunaan alat kontrasepsi dianggap krusial untuk menjaga kesehatan reproduksi.
Dinas P3AP2KB Lombok Tengah berkomitmen untuk terus melakukan penyuluhan dan pendekatan “jemput bola” dalam setiap kegiatan guna menjangkau lebih banyak PUS. Kusriadi menambahkan, capaian pengendalian penduduk rata-rata di Lombok Tengah saat ini berada di angka 1,2 anak per Pasangan Usia Subur, jauh di bawah target 2,3 anak.
Selain metode kontrasepsi modern, Kusriadi juga menyebut adanya “KB tradisional” yang merujuk pada pasangan yang salah satu anggotanya bekerja di luar negeri.
