JAKARTA – Head of Creative Strategic Promotion, Iwet Ramadhan, menepis dugaan bahwa polemik baliho film “Aku Harus Mati” merupakan bagian dari strategi pemasaran atau gimik. Pernyataan ini disampaikan Iwet menyusul perbincangan hangat di tengah masyarakat terkait kontroversi baliho tersebut.
Iwet menegaskan bahwa isu yang berkembang bukanlah rekayasa untuk menarik perhatian publik. Ia bahkan mengungkapkan rasa lelahnya terhadap tudingan tersebut.
Iwet Ramadhan Tegaskan Bukan Gimik
“Sudah capek menghadapi gimik di negara ini,” ujar Iwet kepada awak media pada Senin (6/4). Menurutnya, tudingan gimik justru menjadi beban bagi tim produksi yang berupaya menyampaikan pesan film secara tulus kepada masyarakat.
Lebih lanjut, Iwet menilai respons publik terhadap polemik ini mencerminkan kondisi sosial yang sedang sensitif. Ia melihat hal ini sebagai pelajaran berharga bagi timnya.
“Sebenarnya saya pribadi menanggapinya jadi pelajaran, ternyata kondisi sekarang sedang sensitif, apa saja bisa jadi trigger,” katanya.
Kondisi tersebut, imbuh Iwet, menuntut pihaknya untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan kepada khalayak luas. Tim produksi kini fokus pada esensi film ketimbang terjebak dalam spekulasi.
