Iran dilaporkan telah memperkuat sistem pertahanan di Pulau Kharg dalam beberapa pekan terakhir. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap potensi operasi darat yang mungkin dilancarkan oleh Amerika Serikat. Penguatan pertahanan tersebut mencakup pemasangan ranjau serta pengerahan pasukan tambahan dan sistem pertahanan udara.

Menurut laporan CNN pada Rabu (25/3), yang mengutip sumber intelijen AS, Iran telah menempatkan sistem pertahanan udara portabel, ranjau anti-personel, dan ranjau anti-lapis baja di sekitar pulau. Pemasangan ranjau juga dilakukan di sepanjang garis pantai yang diidentifikasi sebagai titik pendaratan potensial bagi pasukan Amerika.

Sumber intelijen AS juga menyatakan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) terus memantau Pulau Kharg untuk mendeteksi setiap perubahan di lapangan, termasuk indikasi pemasangan jebakan.

Situasi ini menyusul laporan sebelumnya dari media Axios pada Jumat (20/3) yang menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan opsi untuk mengambil alih Pulau Kharg. Langkah tersebut bertujuan untuk memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital di Teluk Persia.

Kemudian, pada Minggu (22/3), Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa “semua opsi tetap terbuka”, termasuk kemungkinan pengiriman pasukan ke pulau tersebut.

Ketegangan antara kedua negara memang telah memanas. Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan menargetkan wilayah Israel dan fasilitas militer milik Amerika yang berada di Timur Tengah.