Angkatan bersenjata Iran mengklaim telah menembak jatuh pesawat angkut militer C-130 Hercules milik Amerika Serikat. Pesawat tersebut dilaporkan terlibat dalam operasi penyelamatan kopilot jet tempur F-15E AS yang sebelumnya juga ditembak jatuh.

Pernyataan ini disampaikan oleh Ebrahim Zolfaghari, juru bicara markas besar pusat komando militer Iran Khatam Al-Anbiya, pada Minggu (5/4/2026). Sebelumnya, komando Iran juga menyatakan bahwa upaya AS untuk menyelamatkan pilot kedua dari pesawat F-15E yang jatuh telah “gagal”.

Dalam pernyataan awal, Iran mengklaim telah menembak jatuh dua helikopter Black Hawk dan satu pesawat pendukung C-130. Namun, Zolfaghari kemudian memberikan detail lebih lanjut.

“Sesuai informasi yang diterima sebelumnya, penyelidikan tambahan oleh para ahli di tempat kejadian menentukan bahwa, sebagai hasil dari tembakan intens dari para pejuang Iran, angkatan bersenjata menembak jatuh dua pesawat angkut militer C-130 dan dua helikopter Black Hawk milik tentara AS,” demikian pernyataan komando militer Iran.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa pilot kedua dari pesawat F-15E yang jatuh telah berhasil diselamatkan dan berada dalam keadaan aman. Trump menambahkan bahwa puluhan pesawat terlibat dalam operasi penyelamatan tersebut.

Insiden ini terjadi di tengah ketegangan yang memanas antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel. Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil.

Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan menargetkan wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Awalnya, AS dan Israel mengklaim serangan “pencegahan” mereka diperlukan untuk melawan ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran. Namun, mereka kemudian menegaskan bahwa tujuan mereka adalah untuk membuat perubahan kekuasaan di Iran.