MATARAM – Harga cabai rawit di pasar tradisional Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp170.000 per kilogram pada Minggu, 22 Februari 2026. Kenaikan harga ini terjadi menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Menyikapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram, Irwan Harimansayah, mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying atau pembelian barang secara berlebihan. Ia menegaskan bahwa ketersediaan bahan pokok sebenarnya tetap terjaga.

“Masyarakat hendaknya belanja sesuai kebutuhan dan tidak panik dengan belanja secara berlebihan. Kenaikan harga beberapa bahan pokok yang terjadi saat ini masih fluktuatif,” ujar Irwan di Mataram.

Intervensi Pasar dan Pasokan Tambahan

Irwan menjelaskan, lonjakan harga cabai rawit yang mencapai Rp170.000 per kilogram pada Sabtu (21/2) dipicu oleh tingginya permintaan masyarakat yang tidak diimbangi dengan ketersediaan stok di wilayah Kota Mataram.

“Kalau stok sebenarnya ada, tapi bukan di Kota Mataram, melainkan di daerah penyangga seperti Lombok Barat dan Lombok Timur,” tambahnya.

Untuk menstabilkan harga, Pemerintah Kota Mataram melalui dinas terkait tengah memperkuat koordinasi dengan para distributor. Langkah cepat ini dilakukan untuk mengintervensi pasar agar kenaikan harga tidak semakin membebani masyarakat. Rencananya, pasokan tambahan akan didatangkan dari daerah-daerah penghasil, termasuk cabai dari Pulau Bali dan Jawa.

Sementara itu, harga cabai merah besar dan cabai keriting masih bertahan pada harga Rp30.000 per kilogram.

Komoditas Lain Ikut Merangkak Naik

Selain cabai rawit, beberapa komoditas pokok lainnya juga mengalami kenaikan harga:

  • Daging sapi: Kini Rp145.000-Rp150.000 per kilogram, dari harga normal Rp125.000-Rp135.000 per kilogram.
  • Daging ayam: Mencapai Rp42.000-Rp44.000 per kilogram, dari harga Rp40.000 per kilogram.
  • Telur ayam ras: Naik dari Rp58.000 per tray (isi 30 butir) menjadi Rp60.000 per tray.

“Kendati terjadi kenaikan, kami harap masyarakat tetap tenang dan belanja sesuai kebutuhan bukan keinginan,” kata Irwan.

Langkah Mitigasi dan Pasar Murah

Guna mengantisipasi lonjakan harga yang lebih signifikan, Disdag Kota Mataram telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Perdagangan Provinsi, Bulog, Bank Indonesia (BI), distributor, dan Satgas Pangan. Koordinasi ini bertujuan memastikan pasokan dan harga kebutuhan pokok di pasar tetap tersedia dan terkendali.

Pemerintah Kota Mataram juga telah menyiapkan jadwal pasar rakyat atau pasar murah serta gerakan pangan murah (GPM) sebagai langkah mitigasi.

“Minggu depan, tanggal 24-26 Februari, kami akan menggelar pasar rakyat untuk membantu pemenuhan kebutuhan masyarakat, mendekatkan dan memberikan harga di bawah harga pasar,” ungkap Irwan.

Diperkirakan, harga akan mulai melandai pada pertengahan bulan Ramadhan sebelum kembali berpotensi naik menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.