Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, memastikan program bantuan pangan dari pemerintah pusat akan terus berlanjut sepanjang tahun 2026. Bantuan berupa beras dan minyak goreng ini ditujukan bagi 46.983 penerima manfaat di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Mataram, Sudirman, menyatakan bahwa anggaran untuk program rutin ini telah tersedia. “Anggaran untuk program rutin itu dipastikan sudah tersedia dan kini kami tinggal menunggu jadwal penyaluran tahap kedua untuk jatah April-Mei 2026,” kata Sudirman di Mataram pada Selasa (29/04/2026).
Sudirman optimis jumlah penerima bantuan tidak akan berkurang, bahkan berpotensi meningkat. “Sejauh ini, saya belum melihat tren penerima turun, sebaliknya trennya selalu naik terus. Mudah-mudahan di triwulan berikutnya jumlahnya bisa bertambah lebih banyak lagi,” ujarnya.
Total penerima bantuan pangan di Kota Mataram pada tahun 2026 mencapai 46.983 Kepala Keluarga (KK). Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sekitar 51 persen atau sekitar 15.000 KK dibandingkan tahun 2025 yang hanya 31.046 KK. Penambahan ini merupakan respons atas usulan dari tingkat lingkungan dan kelurahan, yang kemudian diproses oleh pemerintah pusat melalui Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Dalam setiap pendistribusian, setiap KK penerima bantuan mendapatkan 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng, yang merupakan jatah untuk dua bulan. Ini berarti, setiap bulan, satu KK menerima 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng.
Evaluasi terhadap pendistribusian bantuan pangan tahap pertama tahun 2026 menunjukkan tidak ada persoalan besar yang berarti. Kendala yang ditemukan di lapangan bersifat teknis dan telah ditangani. “Itu hanya dialami segelintir masyarakat, mungkin satu atau dua orang saja dan itu murni masalah teknis distribusi. Namun, hal tersebut tetap menjadi tanggung jawab Bulog untuk mengganti dan menyalurkannya kembali hingga tuntas,” jelas Sudirman.
Terkait kualitas beras, Sudirman menegaskan bahwa selama penyaluran tahap pertama, tidak ada keluhan mengenai kualitas beras yang buruk, tidak layak konsumsi, atau ditemukan kutu. “Semua stok beras yang disalurkan telah melalui pengecekan sebelum sampai ke masyarakat. Sebelum bagi, tim kami rutin mengecek kualitas dan volume beras yang akan dibagi,” pungkasnya.
