Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mulai mendistribusikan paket bantuan sembako kepada 191 kepala keluarga (KK) yang menjadi korban cuaca ekstrem. Bantuan ini disalurkan menyusul dampak banjir dan angin kencang yang melanda wilayah tersebut pada Rabu, 21 Januari 2026.

Plt Kepala Dinsos Kota Mataram, Samsul Adnan, menjelaskan bahwa pendistribusian bantuan bagi korban cuaca ekstrem dimulai pada hari ini. “Hari ini kami distribusi ke 191 KK di tiga kelurahan di Kecamatan Ampenan,” ujar Samsul di Mataram, Rabu (21/1).

Tiga kelurahan yang terdampak banjir dan angin kencang tersebut meliputi Lingkungan Selaparang, Kelurahan Banjar, dengan 12 KK penerima. Kemudian, Kelurahan Pejeruk sebanyak 10 KK, serta Lingkungan Kebon Talo, Kelurahan Ampenan Utara, yang menjadi lokasi dengan jumlah penerima terbanyak, yakni 169 KK.

Paket sembako yang diserahkan kepada para korban antara lain air mineral, beras, mi instan, dan susu. Selain itu, Dinsos juga menyediakan tikar dan selimut untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak.

“Bantuan tersebut diberikan hanya sekali. Namun, jika kondisi mereka masih membutuhkan, pihak kelurahan bisa mengusulkan kembali,” kata Samsul.

Ia menambahkan, pendistribusian bantuan untuk warga terdampak di kelurahan lainnya masih menunggu laporan resmi dari masing-masing kelurahan. “Pasalnya, kelurahan yang paling tahu persis kondisi warganya yang terdampak dan bantuan apa yang dibutuhkan,” jelasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Akhmad Muzaki, mengungkapkan bahwa dari 191 KK yang terdampak, tiga KK di antaranya terpaksa mengungsi. Mereka adalah warga yang tinggal di hunian sementara (huntara) nelayan Bintaro.

“Sebanyak 3 KK tersebut mengungsi karena atap huntara yang mereka tempati rusak berat karena angin kencang,” terang Muzaki. Ketiga KK tersebut kini menempati Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Bintaro dan tidak memerlukan tenda darurat. Adapun warga terdampak lainnya sejauh ini masih dapat menempati rumah masing-masing, meskipun sempat terendam luapan air sungai.

Dampak dari cuaca ekstrem yang terjadi pada Selasa hingga Rabu (20-21/1) meliputi kerusakan pada tiga unit rumah ringan, satu kontainer pedagang kaki lima (PKL), gazebo di Taman Bako Ampenan, atap rusunawa yang rusak berat, lampu gawang jalan rusak, serta delapan pohon tumbang di berbagai lokasi.

Untuk penanganan pascacuaca ekstrem, BPBD Kota Mataram telah menurunkan tim reaksi cepat (TRC) penanggulangan bencana sebanyak dua regu untuk melakukan asesmen di masing-masing lokasi terdampak. Tim juga melakukan pemotongan dan pembersihan pohon tumbang.

Upaya penanganan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk personel dari TNI/Polri, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), Dinas Perhubungan, camat, lurah, serta PLN untuk antisipasi gangguan listrik. Unsur masyarakat sekitar juga turut serta dalam proses pemulihan.

Muzaki memastikan bahwa kondisi terkini menunjukkan hujan sudah mereda. “Kondisi saat ini, hujan sudah mereda, pohon yang tumbang sudah dipotong, perbaikan beberapa fasilitas sedang berlangsung, serta pengangkutan dan pembersihan diusahakan secepatnya,” pungkasnya.