Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengalokasikan anggaran sebesar Rp400 juta untuk menata trotoar di kawasan Jalan Adi Sucipto, Rembiga. Penataan ini dilakukan setelah 105 pedagang kaki lima (PKL) yang sebelumnya berjualan di area tersebut resmi direlokasi ke dalam eks Bandara Selaparang.
Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Lale Widiahning, pada Kamis, menjelaskan bahwa panjang trotoar yang akan ditata mencapai sekitar 500 meter lebih. “Untuk panjang trotoar yang akan kami tata sekitar 500 meter lebih,” ujar Lale.
Konsep Baru Trotoar Rembiga
Lale Widiahning menambahkan, penataan trotoar di depan Supermarket Mario ini akan mengusung konsep baru. Tidak hanya sekadar trotoar biasa, area tersebut akan dipadukan dengan taman mini untuk menambah estetika kota. Dengan lebar trotoar sekitar 3,5 meter, konsep yang diusung akan tetap menyediakan ruang yang nyaman bagi pejalan kaki.
“Penataan itu, diharapkan mampu meningkatkan nilai estetika Kota Mataram serta memberikan kenyamanan lebih bagi para pejalan,” kata Lale Widiahning.
Pengecatan dan Perbaikan Fasilitas Kota Lain
Selain penataan trotoar di Rembiga, Dinas PUPR Kota Mataram juga gencar melakukan penataan estetika kota di beberapa ruas jalan protokol. Salah satu fokus utama adalah pengecatan dan perbaikan fasilitas trotoar di Jalan Langko.
Proyek pengecatan yang menggunakan dana swakelola ini telah menjangkau area dari Jalan Langko sisi timur, mulai dari Islamic Center hingga ke depan Masjid Raya At Takwa, dengan panjang sekitar 400-500 meter. Meskipun awalnya ditargetkan rampung sebelum Idul Fitri, kendala cuaca yang tidak menentu menyebabkan target penyelesaian bergeser.
“Semoga pertengahan April 2025, pengecatan dan penataannya trotoar selesai,” harap Lale.
Penyesuaian Fasilitas Umum: Pembongkaran Kursi di Jalan Pejanggik
Di sisi lain, Dinas PUPR juga melakukan penyesuaian fasilitas umum berupa kursi di area publik. Sebanyak enam unit kursi yang berada di sepanjang Jalan Pejanggik, tepatnya di depan Pendopo dan Kantor Gubernur NTB, terpaksa dibongkar. Pembongkaran ini dilakukan atas permintaan Pemerintah Provinsi NTB untuk menjaga kenyamanan dan estetika di area pusat pemerintahan tersebut.
Kursi-kursi yang dibongkar tersebut rencananya akan direlokasi ke titik-titik yang dinilai lebih efektif bagi pejalan kaki. Lokasi relokasi yang dipertimbangkan antara lain di Jalan Udayana dan Jalan Airlangga, tepatnya di depan SDN 7 Mataram, yang selama ini ramai digunakan oleh anak sekolah untuk menunggu jemputan.
“Selain itu, kami juga akan mengganti beberapa kursi yang rusak di kawasan Udayana,” tutup Lale Widiahning.
