Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menargetkan pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp28 miliar dari 11 badan layanan umum daerah (BLUD) puskesmas pada tahun 2026. Target ambisius ini ditetapkan setelah realisasi PAD BLUD puskesmas pada 2025 berhasil melampaui ekspektasi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, Emirald Isfihan, menjelaskan bahwa tren realisasi PAD BLUD puskesmas terus menunjukkan hasil positif. Pada tahun 2025, target pendapatan awal dari 11 BLUD puskesmas ditetapkan Rp23 miliar, kemudian direvisi menjadi Rp25 miliar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan 2025.
“Pada 2025 target pendapatan dari 11 BLUD puskesmas awalnya ditetapkan Rp23 miliar, kemudian direvisi menjadi Rp25 miliar dalam APBD perubahan 2025,” kata Emirald di Mataram, Selasa.
Emirald melanjutkan, realisasi pendapatan pada akhir tahun 2025 bahkan melampaui target revisi, mencapai Rp26 miliar. Berdasarkan capaian tersebut dan setelah melalui kajian bersama DPRD Kota Mataram serta mempertimbangkan potensi layanan yang ada, target PAD 2026 dari 11 BLUD puskesmas Kota Mataram akhirnya ditetapkan sebesar Rp28 miliar.
“Kami siap bekerja keras untuk mencapai target tersebut,” tegas Emirald.
Menurut Emirald, pola sumber pendapatan puskesmas berbeda dengan rumah sakit daerah. Jika rumah sakit sangat bergantung pada layanan rawat inap dan tindakan medis, puskesmas justru bertumpu pada sistem kapitalisasi BPJS Kesehatan. Dengan tingkat kepesertaan BPJS di Kota Mataram yang hampir menyentuh 90 persen, Dinkes melihat peluang peningkatan PAD BLUD puskesmas masih terbuka lebar.
Salah satu strategi utama yang dilakukan adalah mendorong warga untuk mendaftarkan kepesertaan BPJS mereka ke puskesmas. Inovasi layanan juga menjadi kunci untuk menarik lebih banyak peserta.
“Kalau hanya mengandalkan jumlah kunjungan harian, tentu berat. Karena itu, kami mendorong puskesmas lebih aktif menarik peserta BPJS dengan berbagai inovasi layanan,” jelasnya.
Selain mengoptimalkan layanan yang dibiayai BPJS, puskesmas juga diarahkan untuk memperkuat layanan non-BPJS serta meningkatkan kenyamanan fasilitas. Hal ini bertujuan agar puskesmas semakin diminati masyarakat sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Data Dinas Kesehatan Kota Mataram mencatat empat puskesmas menjadi penyumbang pendapatan terbesar, yaitu Puskesmas Cakranegara, Karang Pule, Tanjung Karang, dan Puskesmas Mataram. Keempat puskesmas ini memiliki keunggulan layanan yang signifikan.
“Keunggulan layanan rawat inap serta persalinan 24 jam menjadi faktor utama tingginya kontribusi,” ungkap Emirald.
Emirald menambahkan, puskesmas yang memiliki layanan rawat inap dan persalinan lebih potensial dan menjadi tulang punggung pendapatan BLUD. Selain puskesmas, Dinkes juga menaruh harapan besar pada unit pelaksana teknis laboratorium kesehatan (labkes) yang kini berstatus BLUD.
“Labkes bisa menjadi sumber pendapatan baru di sektor kesehatan, karena sudah menjadi BLUD dan perannya cukup strategis untuk memperkuat struktur pendapatan kami,” pungkasnya.
