Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menegaskan komitmen untuk memberantas kasus perundungan di lingkungan pendidikan. Penegasan ini disampaikan menyusul adanya dugaan kasus perundungan yang menimpa salah satu siswa sekolah dasar di Kecamatan Pringgabaya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, M Nurul Wathoni, menyatakan bahwa penanganan perundungan merupakan tanggung jawab kolektif. Kasus perundungan adalah tanggungjawab bersama yang harus terus kita hilangkan di dunia pendidikan,” kata M Nurul Wathoni di Lombok Timur, Rabu (04/02/2026).

Menurutnya, kasus perundungan harus menjadi perhatian serius bagi pihak sekolah. Seluruh elemen, mulai dari guru, pengawas, komite sekolah, hingga wali murid, diharapkan memiliki komitmen kuat agar kasus serupa tidak terulang atau menimpa pelajar di Lombok Timur.

M Nurul Wathoni menambahkan, penegasan ini telah disampaikan sebelum dugaan kasus di Pringgabaya mencuat. Pihaknya pada pertengahan Januari 2026 telah mengeluarkan edaran yang meminta sekolah untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi para siswa.

“Termasuk di dalamnya bagaimana warga sekolah termasuk memaksimalkan tugas piket guru baik saat pagi maupun saat kegiatan ekstrakurikuler agar lingkungan sekolah bisa tetap dalam pengawasan guru,” jelasnya. Ia menekankan bahwa upaya ini merupakan salah satu langkah preventif. “Ini salah satunya, untuk mencegah adanya kasus perundungan, karena kasus seperti ini adalah tanggungjawab bersama yang harus terus kita hilangkan,” tambahnya.

Terkait dugaan kasus di Kecamatan Pringgabaya, berdasarkan keterangan dari pihak sekolah, insiden bermula pada Rabu (28/01/2026). Saat itu, siswa sedang bergotong royong membersihkan kelas bersama wali kelas karena adanya bau tikus mati. Setelah selesai, wali kelas membelikan es untuk semua siswa. Hingga pulang sekolah, tidak ada laporan mengenai pemukulan yang dilakukan oleh siswa.

Namun, pada Sabtu (31/01/2026), guru mendapatkan informasi bahwa ada seorang siswa yang sakit dan mengaku ditendang oleh temannya. Saat siswa tersebut dirawat di klinik, ia disebut sering menyebut nama temannya, MK. Guru kemudian menjenguk dan membawa MK beserta orang tuanya ke klinik. MK membantah telah memukul korban.

Guru selanjutnya berkonsultasi dengan dokter psikologi yang menangani korban. Proses skrining sedang dilakukan untuk mengetahui kejadian sebenarnya. Hasil skrining awal mengindikasikan bahwa insiden terjadi setelah pulang sekolah atau di luar lingkungan sekolah. Namun, ada juga saksi teman sekelas yang melihat korban naik bangku dan terjatuh. Kejadian sebenarnya masih menunggu hasil skrining lebih lanjut.