Banjir bandang melanda wilayah lereng Gunung Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, pada Minggu (22/2) dini hari hingga pagi. Peristiwa ini merendam ratusan rumah warga dan melumpuhkan akses jalan provinsi akibat genangan air bercampur lumpur yang meluap dari sungai dan drainase.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bima, Muhammad Nurul Huda, menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat, petir, dan angin kencang terjadi sejak Sabtu (21/2) pukul 22.25 Wita hingga sekitar pukul 01.00 Wita. Kondisi ini memicu luapan air dari pegunungan ke permukiman warga.

“Derasnya air dari gunung menyebabkan sungai dan drainase di wilayah terdampak tidak mampu menahan debit air hingga meluap ke area permukiman dan jalan raya,” ujar Muhammad Nurul Huda kepada ANTARA, Minggu sore.

Dampak Terparah di Desa Labuan Kananga

Di Kecamatan Tambora, Desa Labuan Kananga menjadi wilayah paling parah terdampak banjir sekitar pukul 05.55 Wita. Ketinggian air bervariasi antara 10 hingga 70 sentimeter. Sebanyak 140 unit rumah atau 140 kepala keluarga (526 jiwa) terdampak yang tersebar di tiga dusun, yakni Dusun Sarae (51 KK), Dusun Mada Oi (22 KK), dan Dusun Nanga Na’e (67 KK).

Genangan air juga merendam sejumlah fasilitas umum, di antaranya dua unit sekolah (SDN 1 Labuan Kananga dan SDN 2 Labuan Kananga), Masjid At-Taqwa, Kantor Desa Labuan Kananga, serta satu unit pasar. “Akses jalan provinsi di desa tersebut turut tergenang air bercampur lumpur sehingga menyebabkan kemacetan kendaraan,” jelasnya.

Desa Lain Turut Terdampak

Banjir juga melanda Desa Kawinda Na’e pada pukul 06.00 Wita dengan ketinggian air antara 10 hingga 60 sentimeter. Sebanyak 20 unit rumah atau 20 KK (65 jiwa) di RT 10 Dusun Soro Bura terendam. Selain itu, arus air mengikis bahu jalan yang dinilai rawan membahayakan keselamatan pengguna jalan, sementara ruas jalan provinsi setempat tergenang lumpur dan menghambat arus lalu lintas.

Masih di Desa Kawinda Na’e, pada pukul 06.10 Wita terjadi pohon tumbang berukuran besar di ruas Jalan Raya Lintas Tambora-Kore. Peristiwa ini menyebabkan arus lalu lintas terhambat karena pohon melintang di badan jalan dan belum sepenuhnya dibersihkan.

Di Desa Rasabou, banjir dengan ketinggian 10 hingga 30 sentimeter merendam 44 unit rumah atau 44 KK (135 jiwa) yang tersebar di tiga RT, yakni RT 02 (tiga unit rumah), RT 03 (36 unit rumah), dan RT 04 (lima unit rumah).

Sementara itu, di Desa Oi Panihi, luapan air setinggi 10 hingga 30 sentimeter menyebabkan satu akses ruas jalan provinsi mengalami kerusakan dan rawan dilalui kendaraan, sehingga berpotensi membahayakan pengguna jalan.

Tidak Ada Korban Jiwa, Warga Mulai Bersih-bersih

BPBD Kabupaten Bima mencatat tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Hingga Minggu siang, kondisi banjir di sejumlah lokasi dilaporkan mulai berangsur surut. Warga pun telah melakukan pembersihan lumpur dan sampah di permukiman serta ruas jalan, tanpa adanya pengungsian.

Tim BPBD Kabupaten Bima telah berkoordinasi dengan camat, kepolisian, TNI, dan pemerintah desa setempat untuk melaksanakan pengamatan, pendataan, kaji cepat, serta penanganan darurat di wilayah terdampak. Pendataan lahan pertanian dan infrastruktur umum lainnya masih berlangsung.

BPBD juga menyebut kebutuhan mendesak saat ini meliputi bantuan tanggap darurat, logistik, dan peralatan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, angin kencang, dan tanah longsor.