Arab Saudi membantah keras laporan yang menyebut pihaknya telah mengizinkan penggunaan wilayah udaranya untuk operasi militer ofensif Amerika Serikat. Penegasan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional yang melibatkan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Stasiun televisi Al Arabiya, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Riyadh berupaya meredakan ketegangan dan mendukung upaya mediasi Pakistan untuk mencapai kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

“Kerajaan tidak mengizinkan penggunaan wilayah udaranya untuk mendukung operasi militer ofensif. Ada pihak-pihak yang mencoba memberikan gambaran yang menyesatkan tentang posisi Arab Saudi karena alasan yang mencurigakan,” kata sumber tersebut.

Sanggahan ini menyusul laporan The Wall Street Journal pada Kamis (7/5) yang menyatakan bahwa Arab Saudi dan Kuwait telah mencabut pembatasan penggunaan pangkalan dan wilayah udara mereka oleh militer Amerika. Pembatasan tersebut diberlakukan setelah peluncuran operasi Amerika untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Mengutip pejabat Amerika dan Saudi, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa pemerintahan Trump sedang bersiap untuk memulai kembali operasi pengawalan angkatan laut bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Operasi ini akan didukung oleh angkatan laut dan angkatan udara AS, setelah sempat dihentikan sementara awal pekan ini.

Ketegangan di kawasan Teluk telah meningkat tajam sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Insiden ini memicu pembalasan dari Iran terhadap Israel dan sekutu Amerika di Teluk, yang bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz.

Amerika Serikat kemudian mengumumkan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 8 April, diikuti dengan negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan. Namun, negosiasi tersebut gagal menghasilkan kesepakatan permanen.

Presiden Trump kemudian mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tanpa menetapkan tenggat waktu. Sejak 13 April, Amerika Serikat melanjutkan blokade angkatan laut dengan menargetkan lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz.

Pada Selasa, Trump menyatakan bahwa militer AS akan untuk sementara menghentikan “Project Freedom”, sebuah inisiatif yang diluncurkan untuk memulihkan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz. Meskipun demikian, blokade Amerika tetap dipertahankan dengan kekuatan dan efektivitas penuh.