Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk segera mengambil tindakan guna melindungi jalur maritim internasional. Desakan ini muncul setelah Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas global, dilaporkan ditutup menyusul konflik terbaru di Timur Tengah.

Sekretaris Jenderal GCC, Mohammed Al Budaiwi, menyampaikan seruan tersebut dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB pada Kamis (2/4). “Kami menyerukan kepada Dewan Keamanan untuk bertanggungjawab penuh dan melakukan semua langkah yang diperlukan untuk melindungi jalur maritim dan memastikan keberlanjutan navigasi internasional yang aman,” tegas Al Budaiwi.

Selain itu, Al Budaiwi juga mendesak Dewan Keamanan untuk melibatkan negara-negara Teluk dalam setiap diskusi atau perjanjian dengan Iran. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat keamanan regional dan mencegah eskalasi konflik lebih lanjut di kawasan tersebut.

Penutupan Selat Hormuz merupakan imbas langsung dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Konflik terbaru ini dipicu oleh serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Sebagai respons, Iran tidak hanya melancarkan serangan balasan, tetapi kini juga menguasai jalur utama pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk menuju pasar global melalui Selat Hormuz.

Kondisi ini telah berdampak signifikan terhadap ekspor dan produksi minyak di kawasan Teluk, memicu lonjakan harga energi secara global dan menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas pasokan.