Transformasi Ekonomi NTB: Petani Menguat, Desa Bergerak Hadapi Tantangan Kemiskinan

Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah berada di persimpangan penting dalam upaya transformasi ekonomi desa. Di satu sisi, struktur ekonomi provinsi ini masih kokoh bertumpu pada sektor pertanian. Namun di sisi lain, geliat industri mikro dan konektivitas digital mulai membuka jalan baru menuju kesejahteraan yang lebih merata.

Data terbaru per Februari 2026 menunjukkan, dari total 1.180 desa/kelurahan di NTB, sebanyak 943 desa atau 79,92 persen masih menggantungkan penghasilan utama pada sektor pertanian. Angka ini menegaskan bahwa denyut ekonomi NTB tetap berakar kuat pada sektor agraris, terutama subsektor tanaman pangan yang menjangkau 798 desa.

Meski demikian, desa-desa di NTB tidak lagi berjalan dalam pola lama semata. Di balik dominasi pertanian, geliat ekonomi baru mulai terlihat dengan adanya 1.155 desa yang telah memiliki Industri Mikro dan Kecil (IMK). Bahkan, 195 desa telah berkembang menjadi sentra industri, fenomena yang paling terasa di Kabupaten Lombok Timur sebagai konsentrasi sentra industri tertinggi di NTB.

Industri kecil berbasis lokal ini menjadi jembatan penting antara produksi primer dan nilai tambah. Hasil pertanian tidak lagi hanya dijual mentah, tetapi mulai diolah, dikemas, dan dipasarkan lebih luas. Desa-desa perlahan bergerak dari sekadar produsen bahan baku menjadi pelaku ekonomi kreatif berbasis komunitas.

Transformasi ini semakin diperkuat oleh akses digital yang hampir merata. Seluruh desa/kelurahan di NTB telah terjangkau sinyal internet, dengan 1.139 desa menikmati jaringan 4G/5G. Konektivitas ini menjadi fondasi penting bagi digitalisasi UMKM, pemasaran hasil tani, hingga akses informasi harga pasar.

Kombinasi pertanian yang kuat, IMK yang tumbuh, dan internet yang menjangkau desa menjadi modal besar bagi percepatan pemerataan ekonomi. Meskipun demikian, tantangan kemiskinan masih menjadi perhatian.

Per Maret 2025, jumlah penduduk miskin di NTB tercatat 654,57 ribu orang atau 11,78 persen. Angka ini menunjukkan penurunan 4,03 ribu orang dibanding September 2024, dengan penurunan 0,13 poin persen. Garis kemiskinan NTB naik menjadi Rp 556.846 per kapita per bulan, meningkat 3,05 persen, mengindikasikan bahwa biaya untuk memenuhi kebutuhan dasar semakin tinggi.

Struktur garis kemiskinan menunjukkan 75,86 persen disumbang oleh kebutuhan makanan. Komoditas seperti Beras, Telur Ayam Ras, Daging Ayam Ras, Cabai Rawit, hingga Rokok Kretek dan Rokok Filter menjadi penyumbang utama.

Kabar Baik dari Sektor Pertanian: NTP Menguat

Di tengah tantangan tersebut, kabar menggembirakan datang dari sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) NTB pada Desember 2025 tercatat 134,14, naik 4,50 persen dibanding bulan sebelumnya. Karena NTP berada di atas 100, berarti petani mengalami surplus, angka ini menunjukkan daya beli dan margin usaha petani membaik secara signifikan.

Kenaikan terbesar datang dari subsektor Hortikultura dengan NTP mencapai 255,85, menjadi motor utama peningkatan kesejahteraan petani. Disusul tanaman pangan (125,53), peternakan (112,94), perikanan (106,82), dan perkebunan rakyat (102,59). Seluruh subsektor berada dalam posisi surplus, artinya di tingkat produsen, pendapatan petani relatif lebih kuat dibanding biaya yang dikeluarkan.

Jika tren ini konsisten dan diiringi penguatan hilirisasi serta stabilitas harga, sektor pertanian dapat menjadi lokomotif penurunan kemiskinan yang lebih cepat pada masa mendatang.

Momentum Transformasi Desa

Gambaran besar ekonomi NTB menunjukkan dinamika yang menarik. Desa yang agraris, kini mulai terdorong ke arah diversifikasi. Kemiskinan menurun, namun masih dipengaruhi oleh harga pangan. Sementara itu, kesejahteraan petani membaik, terutama pada subsektor Hortikultura, dan digitalisasi membuka peluang percepatan nilai tambah.

Ke depan, penguatan hilirisasi pertanian dan agroindustri desa menjadi kunci. Produk Hortikultura unggulan perlu didorong masuk ke rantai pasok modern, didukung fasilitas cold storage, pengemasan, hingga pemasaran digital. Stabilisasi harga pangan juga harus menjadi strategi utama pengendalian kemiskinan, mengingat di NTB, harga Cabai dan Beras bisa menentukan nasib ribuan keluarga.

NTB sedang bergerak maju, didukung pula oleh Program Desa Berdaya yang menyasar pengentasan kemiskinan ekstrem secara gradual pada 106 desa. Dari desa yang bertumpu pada sawah dan ladang, kini menuju desa yang terhubung, produktif, dan mandiri. Jika momentum ini terus terjaga, transformasi ekonomi desa bukan hanya wacana, melainkan jalan nyata menuju kesejahteraan yang lebih merata.