TikToker Gheovanny Methamia Sebut Kontribusi LPDP Tasya Kamila ‘Sampah’, Picu Perdebatan Publik

Tasya Kamila Dicibir Pamer Prestasi LPDP, Gheovanny Methamia: Sampah!

Seorang TikToker bernama Gheovanny Methamia melontarkan kritik pedas terhadap program pengabdian Tasya Kamila sebagai penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Kritik ini muncul di tengah gelombang apresiasi atas laporan transparansi kontribusi Tasya sebagai alumni LPDP.

Melalui akun TikToknya, Gheovanny menilai bahwa kontribusi yang dipaparkan mantan penyanyi cilik itu tidak istimewa dan bisa dilakukan oleh karyawan biasa tanpa harus menempuh pendidikan di Columbia University.

Gheovanny Methamia: “Kontribusinya Sampah!”

“Semua anak LPDP itu heboh-heboh sampah, sampah-sampah, ini bener-bener ya kontribusinya sampah nih ya,” ujar Gheovanny dalam video yang kini viral di media sosial.

Kritik tajam itu dilontarkan Gheovanny setelah membaca unggahan Tasya yang membeberkan berbagai kontribusinya selama masa bakti LPDP, mulai dari gerakan lingkungan, pemberdayaan pemuda, hingga menjadi pembicara di berbagai seminar.

“CSR Kantor Gua Juga Bikin Hal Kayak Gini”

Gheovanny secara spesifik menyoroti poin tentang gerakan akar rumput (grassroot movement) melalui yayasan Green Movement Indonesia yang dilakukan Tasya.

“Lu tahu nggak, CSR di kantor gua itu juga bikin hal-hal kayak gini. Nggak pakai LPDP. Semua ibu-ibu kerja itu juga banyak melakukan kontribusi melalui CSR company, melalui apa dan yang lain-lainnya. Nggak pakai uang rakyat, tapi bayar pajak,” sindirnya.

Ia mempertanyakan nilai lebih dari kontribusi Tasya yang menurutnya tidak memerlukan pendidikan tinggi di luar negeri. “Coba deh LPDP kalau nerima kontribusi itu yang lebih real. Butuh researcher, butuh ekonom, butuh engineer, semuanya lebih real,” tegasnya.

“Nggak Perlu Columbia University!”

Kritik paling keras dilontarkan Gheovanny saat membaca poin “memberdayakan pemuda Indonesia melalui talkshow, seminar, workshop”.

“Itu mah bisa dikerjain sama, aduh gila lah ini. Semua orang bisa kerjain hal kayak gini. Nggak perlu Columbia University, serius deh gue, gila!” ucapnya.

Menurut Gheovanny, kegiatan seperti menjadi pembicara seminar atau mengadakan workshop adalah hal yang biasa dilakukan banyak orang, termasuk para pekerja kantoran dan aktivis sosial yang tidak mendapatkan beasiswa negara.

Respons Publik Memicu Perdebatan

Video Gheovanny pun memicu perdebatan sengit di kalangan warganet. Sebagian mendukung kritik tersebut dengan alasan bahwa kontribusi Tasya memang terlihat umum dan kurang berdampak struktural.

  • “Sumpah tadi gue dalam hati “Tasya serius nulis begini?”,” kata seorang netizen.
  • “pandawara lebih nyata hasilnya ketimbang lulusan LPDP,” ujar lainnya.
  • “kek proker KKN jir ekwkwkwkkw,” cibir lainnya.
  • “Tasya Kamila bukannya dia orang kaya, ya? Kok bisa dapat beasiswa 🙏. Maksudku, banyak pemuda/i dari kelas menengah ke bawah yang pintar dan amanah, tapi kenapa gak diambil dari mereka aja ya? 🙏. (Maaf kalau pertanyaannya terbilang awam, soalnya aku masih awam perihal ini. Makasih sebelumnya)” kata lainnya.
  • “Itu cuma jobdesk anak organisasi kampus,” ujar lainnya mencibir.
  • “Paling bener lpdp buat nakes, dosen, dan guru. Udah pasti balik ke indo dan upgrade ilmu nya,” kata lainnya.

Tasya Kamila Telah Menunaikan Kewajiban

Sebelumnya, Tasya Kamila telah membeberkan secara rinci berbagai kontribusinya selama masa bakti LPDP 2018–2023. Ia menegaskan bahwa dirinya berkomitmen pulang ke Indonesia pascastudi dan menggunakan platformnya sebagai figur publik untuk mengedukasi masyarakat.

“Siapapun kita, memiliki tempat untuk berkontribusi, asal kita mengusahakannya. Termasuk kami, para Ibu Rumah Tangga,” tulis Tasya dalam unggahannya.

Hingga berita ini diturunkan, Tasya Kamila belum menanggapi kritik dari Gheovanny Methamia. Publik pun masih terus memperdebatkan bentuk kontribusi seperti apa yang layak dihasilkan oleh alumni beasiswa bergengsi LPDP.