Tere Liye Bela Alumni LPDP Dwi Sasetyaningtyas: “Ratusan Juta Rakyat Netek Anggaran Negara, Jangan Lebay!”

Tere Liye Bela Dwi Sasetyaningsih LPDP: Ratusan Juta Rakyat Netek Anggaran Negara!

Penulis novel kenamaan Tere Liye angkat bicara membela alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dwi Sasetyaningtyas, yang tengah menjadi sorotan publik. Ia menyebut gelombang hujatan terhadap Dwi dan suaminya, Arya Iwantoro, sebagai reaksi yang berlebihan atau “lebay”.

Melalui akun media sosialnya pada Rabu, 25 Februari 2026, pria bernama asli Darwis ini melontarkan kritik tajam terhadap warganet. Dwi Sasetyaningtyas sebelumnya viral setelah pernyataannya “cukup saya saja yang WNI” dan anaknya menjadi warga negara asing memicu kontroversi.

Tere Liye Pertanyakan Dosa Dwi Sasetyaningtyas

Tere Liye secara lugas mempertanyakan dasar hujatan yang dialamatkan kepada Dwi Sasetyaningtyas. “Apa sih dosanya? Sy mulai kesal melihat kasus ini. Lebay. Coba dijawab pertanyaan sederhana ini: ‘Apa sih dosa dari orang ini saat anaknya jadi WNA? Dia nyuri? Dia korup? Dia zolim?'” tulis Tere Liye.

Dalam tulisan panjangnya, Tere Liye membantah tiga tuduhan utama yang dilayangkan publik kepada Dwi Sasetyaningtyas.

1. Penggunaan Uang Negara

Terkait tuduhan penggunaan uang negara, Tere Liye mengakui bahwa Dwi Sasetyaningtyas memang penerima beasiswa LPDP yang dananya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, ia mengingatkan bahwa ratusan juta rakyat Indonesia juga menerima berbagai bentuk bantuan dari negara.

“Iya, itu betul. Sama dgn 19 juta penerima kartu pra kerja, 68 triliun. Sama dgn penerima beasiswa bidikmisi. Sama dengan penerima bansos, bantuan gaji, PPh ditanggung negara, ribuan triliun selama 20 tahun terakhir. Pakai duit negara semua. Ratusan juta rakyat netek ke anggaran negara. Coba sy tanya, mana sumbangsih mereka ke negara dari minimal 2.000 triliun dana2 ini 20 tahun terakhir?” tantangnya.

2. Menjelek-jelekkan Indonesia

Penulis yang telah 20 tahun berkarier ini menegaskan, pihak yang benar-benar merugikan bangsa adalah para koruptor, bukan seorang ibu yang mengungkapkan pendapat pribadi. “Duh, yg jelek2in Indonesia itu adalah yg korupsi, bancakan uang rakyat lewat proyek2. Yang nepo baby. Yg nyuap, nyogok. Hanya karena dia bilang, cukuplah sy sj yg WNI, itu sih pendapat dia. Yg lain kan banyak nggak sependapat,” tegasnya.

3. Pamer dan Haus Validasi

Mengenai tuduhan “pamer” dan “haus validasi”, Tere Liye justru balik menyerang para pengkritik. Ia menilai para pengkritik juga memiliki kecenderungan serupa. “Wah wah, sy sungguh sedih jika kamu sok bijak pakai argumen ini. Kenapa? Karena kamu jugaaa haus validasi. Coba cek deh akun medsos masing2. Kamu pengen eksis, haus perhatian juga bukan?” tulisnya.

Ia bahkan menyindir para pengkritik dengan membandingkan diri sendiri. “Kalian itu bukan Tere Liye, yg 20 tahun terakhir tdk posting foto/video wajahnya. Nah, jika belum bisa kayak Tere Liye, nggak usah nge-judge orang lain suka pamer, haus validasi, dll. Kita sj masih pelaku. Ehem, wah asyik, sy bisa nyombong di tulisan ini. Sengaja sih,” sindirnya.

Soroti Kemarahan Publik yang Selektif

Lebih jauh, Tere Liye menyoroti fenomena kemarahan yang pilih-pilih di kalangan netizen Indonesia. Ia mencontohkan isu-isu besar yang luput dari kritik publik, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih (KMP), akun anonim Fufufafa, hingga pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Coba pikirkanlah. Kita itu jangan2 secuil pun tidak pernah mengkritik MBG, KMP, fufufafa, Paman Usman. Tidak pernah bahas Kartu Pra Kerja, pelemahan KPK, kerusakan lingkungan dan semua isu penting di negeri ini; eeeh giliran kasus video LPDP ini, kita bahas berkali2. Coba cek deh akun medsos masing2, bercermin,” tulisnya.

Ia mengajak publik untuk introspeksi dan mempertanyakan kembali apa sebenarnya dosa dari Dwi Sasetyaningtyas. “Apa sih dosa dari orang ini? Apakah dia nyuri? Korup? Zolim? Jika iya, masukkan ke penjara. Jika tidak? Duh, abaikan sj video haus validasinya. Tuh bahas MBG, KMP,” pungkasnya.