Pemerintah Pusat secara resmi menetapkan Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai lokasi International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) atau Pusat Riset Rumput Laut Tropis Dunia. Keputusan yang diumumkan pada Jumat, 20 Februari 2026 ini menjadi langkah strategis dalam upaya nasional penguatan ekonomi pesisir dan hilirisasi sektor kelautan Indonesia.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menegaskan bahwa penguatan riset rumput laut adalah kunci untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai pusat rumput laut dunia. “Ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto,” ujar Stella. Ia menambahkan, pembangunan ITSRC di Teluk Ekas akan menjadi fondasi awal dalam membangun ekosistem riset bertaraf global, sekaligus mendorong transformasi ekonomi pesisir yang berbasis ilmu pengetahuan.
Related Post
Indonesia saat ini memegang posisi sebagai produsen rumput laut tropis terbesar di dunia, menguasai sekitar 75 persen pasar global. Sektor ini memiliki nilai ekonomi global mencapai sekitar 12 miliar dolar AS per tahun dan diproyeksikan terus meningkat. Namun, dominasi produksi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan riset dan hilirisasi di dalam negeri.
Oleh karena itu, ITSRC dirancang sebagai simpul kolaborasi riset nasional dan internasional. Pusat riset ini akan menjalin kerja sama dengan institusi terkemuka seperti University of California, Berkeley, serta Beijing Genomics Institute (BGI) dari Tiongkok. BGI telah berkomitmen mendukung pendanaan sekitar Rp3 miliar untuk dua tahun pertama operasional, sementara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengalokasikan Rp1,5 miliar pada tahap awal.
Sejumlah fasilitas modern akan dibangun di kawasan ITSRC, meliputi gedung penelitian, asrama bagi peneliti internasional, apotek, serta berbagai sarana pendukung lainnya. Secara ekologis, Teluk Ekas dinilai sangat ideal sebagai living laboratory karena memiliki sistem teluk tropis yang relatif terlindung dengan sirkulasi air yang baik. Kawasan ini juga sangat potensial untuk pengembangan berbagai jenis rumput laut, termasuk Kappaphycus, Caulerpa, Ulva, dan Halymenia.
Menanggapi penetapan ini, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menyambut positif kehadiran ITSRC di Teluk Ekas. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Muslim, menyampaikan apresiasi tinggi atas hadirnya pusat riset bertaraf internasional tersebut.
“Pemprov NTB sangat mengapresiasi kehadiran laboratorium rumput laut ini. Selama ini salah satu kendala utama petani adalah keterbatasan bibit berkualitas. Dengan adanya ITSRC, kami berharap masalah tersebut bisa teratasi. Ke depan, pusat riset ini juga diharapkan menjadi pusat penelitian, pendidikan, dan pelatihan bagi masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan pengembangan rumput laut di NTB,” ujar Muslim.
Muslim menambahkan, NTB memiliki potensi besar sebagai sentra budidaya rumput laut nasional. Oleh karena itu, kolaborasi riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta transfer teknologi dari ITSRC diyakini akan mempercepat peningkatan produktivitas sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir di wilayah tersebut.
Sebagai bagian dari penguatan riset dan pengabdian berbasis potensi daerah, Universitas Mataram turut berperan aktif dalam pengembangan ITSRC Ekas Buana Lombok Timur. ITSRC akan dikembangkan sebagai pusat riset rumput laut bertaraf internasional melalui kolaborasi dengan para peneliti dunia, dilengkapi laboratorium, sarana riset, hingga dukungan kapal penelitian.
Selain pusat riset rumput laut, Universitas Mataram juga membangun Klinik Spesialis Kedokteran Kelautan. Inisiatif ini merupakan bagian dari penguatan layanan kesehatan di wilayah kepulauan sekaligus mendukung pengembangan pendidikan dokter spesialis, dengan tujuan agar masyarakat pesisir, khususnya di Lombok Timur, dapat memperoleh akses layanan medis yang lebih dekat dan berkualitas.
Melalui kehadiran ITSRC, Pemerintah Provinsi NTB optimistis Teluk Ekas akan berkembang menjadi pusat inovasi rumput laut tropis dunia, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi pesisir yang berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat.










