Nama penyanyi dan aktris Tasya Kamila kembali menjadi sorotan publik. Mantan artis cilik ini menuai pro dan kontra setelah mengunggah laporan kontribusinya sebagai alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di media sosial.
Unggahan bertajuk “Laporan Kontribusi Tasya Kamila bagi Indonesia sebagai Alumni Awardee LPDP” tersebut memicu perdebatan mengenai sejauh mana dampak kontribusinya setelah menerima beasiswa negara.
Related Post
Klarifikasi Tasya Kamila atas Kritik Warganet
Dalam laporannya, Tasya memaparkan perjalanan studinya di Columbia University pada 2016–2018. Ia menempuh pendidikan S-2 jurusan Public Administration in Energy and Environmental Policy dengan dukungan beasiswa LPDP, dan berhasil lulus tepat waktu dengan IPK 3,75.
Namun, laporan tersebut tidak sepenuhnya diterima positif oleh warganet. Salah satu komentar pedas datang dari akun @houseofvya yang menulis, “Mbak kok impact-nya nggak sebesar dana yang dikeluarkan ya? Ini lebih mirip prokeran BEM/kantor, program CSR perusahaan, atau kegiatan ibu-ibu di lingkungan.”
Menanggapi kritik tersebut, Tasya Kamila menyampaikan permintaan maaf. “Huhu maaf ya aku belom bisa penuhin ekspektasi kamu sebagai penerima beasiswa. Alhamdulillah baik LPDP maupun orang-orang yang terdampak lewat berbagai gerakanku berkenan,” balas Tasya.
Ia juga mengakui bahwa dirinya tidak dapat memenuhi harapan semua pihak. “Tapi aku sadar memang aku nggak bisa memenuhi ekspektasi dan menyenangkan hati semua orang,” sambungnya.
Gerakan Lingkungan dan Kebijakan Publik
Tasya mengaku sedih ketika gerakan lingkungan yang ia rintis dianggap tidak berdampak. “Jujur aku sedih karena usahaku, gerakan akar rumput untuk lingkungan dibilang gak berdampak. Aku mempraktikkan keilmuan yang aku dapat di Columbia University, soal bagaimana kebijakan publik bisa efektif dijalankan melalui gerakan akar rumput dan bagaimana publik juga bisa mendorong kebijakan,” ungkapnya.
Isu Sustainable Development Goals (SDGs) memang menjadi prioritas saat dirinya menempuh pendidikan. Menurut Tasya, gerakan akar rumput dapat dan harus dilakukan oleh siapa saja, namun tetap membutuhkan inisiator.
“Gerakan-gerakan ini memang bisa dan justru HARUS dikerjakan siapa saja, tapi tetap harus ada yang mau jadi inisiator, amplifier, dan memberikan wadah untuk mengerjakannya,” ujar Tasya. “Harus pula ada yang menjembatani antara policymaker dan publik agar pesan tersampaikan sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan dan tujuan lingkungan terwujud,” lanjutnya.
Kontribusi Finansial dan Sosial
Selain kontribusi sosial, Tasya juga menyinggung soal dampak finansial yang telah ia berikan. “Kak, kalau mau ngomongin monetary impact, Alhamdulillah dari rezekiku dalam pekerjaanku di industri kreatif juga sudah berkontribusi untuk pajak. Kalau dihitung sejak aku lulus, pajak yang management-ku setorkan Insya Allah udah bisa nutup itu uang sekolahku,” katanya.
Sebelumnya, Tasya membeberkan bahwa ia telah menunaikan masa bakti 2018–2023, menjadi Duta Lingkungan Hidup di Kementerian LHK, mendirikan Green Movement Indonesia dengan ratusan relawan, serta aktif berkolaborasi lintas kementerian dan NGO.









