Emiten tambang nikel di Indonesia mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan kemarin, Selasa (6/1/2026). Reli saham nikel ini terjadi setelah harga patokan global melesat menyentuh level tertinggi dalam 15 bulan terakhir, dipicu oleh rencana pembatasan kapasitas produksi di Tanah Air.

Hingga akhir perdagangan sesi pertama kemarin, saham PAM Mineral (NICL) memimpin penguatan dengan kenaikan 17,29% ke Rp 1.730 per saham. Dalam sepekan, saham NICL telah melesat 42,80%. Kemudian, saham Central Omega Resources (DKFT) melompat 15,19% ke Rp 910 per saham, menguat 26,21% dalam sepekan.

Saham Harita Nickel atau Trimegah Bangun Persada (NCKL) juga menguat nyaris 10% ke Rp 1.295 per saham, dengan apresiasi 14,67% dalam sepekan. Saham Merdeka Battery Materials (MBMA) naik 4,80% ke Rp 655 per saham, disusul saham Sinar Terang Mandiri (MINE) dan Adhi Kartiko Pratama (NICE) yang masing-masing naik 3,81% dan 2,94%.

Sementara itu, saham emiten tambang nikel milik BUMN, Aneka Tambang (ANTM), menguat 0,88% ke Rp 3.420 per saham dan dalam sepekan telah menguat 8,89%. Adapun saham Ifishdeco (IFSH) dan Vale Indonesia (INCO) terkoreksi tipis kemarin, namun dalam sepekan telah naik 7%.

  Prasetyo Hadi: "DEN Diketuai Presiden," Bahlil Lahadalia Resmi Jabat Ketua Harian 2026-2029

Harga Nikel Global Sentuh US$17.000

Harga nikel dunia kembali menyentuh level US$ 17.000 per ton untuk pertama kalinya dalam 15 bulan terakhir. Harga nikel kontrak tiga bulan di Bursa Logam London (LME) ditutup di level US$ 17.003 per ton pada perdagangan Senin (5/1/2026). Sebelumnya, harga kontrak nikel 3 bulan di LME terakhir kali mencapai level tersebut pada Oktober 2024.

Kenaikan harga nikel global yang melonjak hampir 20% dalam tiga minggu terakhir terjadi di tengah pengurangan pasokan global dari Indonesia, produsen nikel terbesar di dunia. Pemerintah Republik Indonesia baru-baru ini mengusulkan pengurangan produksi nikel sebesar 34% dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026.

Langkah ini diambil untuk mengatasi kekhawatiran yang meningkat tentang kelebihan pasokan dan peringatan dari para penambang bahwa kualitas bijih semakin memburuk.

Penjelasan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, tren harga komoditas saat ini, khususnya batu bara dan nikel, tengah mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan di pasar global, termasuk yang berasal dari Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya akan berupaya menjaga pasokan dari Indonesia agar tidak berlebih di pasar, sehingga bisa mendongkrak harga.

  Kisah Yudo Sadewa: Dari Modal Rp500 Ribu, Raup Puluhan Miliar Rupiah dari Meme Coin

Selain pertimbangan harga, Bahlil menekankan, rencana pembatasan produksi tersebut juga lantaran agar cadangan dalam negeri tidak ditambang secara berlebihan. Selain itu, lewat pemangkasan RKAB pemerintah juga berupaya untuk memastikan cadangan mineral dan batu bara tetap tersedia untuk masa depan, sekaligus menggunakan RKAB untuk menertibkan perusahaan-perusahaan yang abai terhadap aturan lingkungan.

Ini adalah langkah besar terbaru untuk mengekang kelebihan pasokan nikel sejak ekspansi signifikan sektor tambang nikel ketika Pemerintah RI melarang ekspor bijih pada tahun 2020.

Mengutip data Refinitiv dalam polling Reuters, analis memperkirakan harga nikel global (rata-rata) berada di level US$ 15.857 per ton pada tahun 2026, dengan median berada di level US$ 15.755 per ton. Proyeksi tertinggi berada di level US$ 18.000 per ton dan terendah di level US$ 14.193 per ton. Namun perlu dicatat, polling tersebut dilakukan dan diperbaharui pada 28 Oktober 2025, sebelum ada kabar terkait pemangkasan produksi di Indonesia.

50% LikesVS
50% Dislikes