Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah di perdagangan pasar spot pada Selasa, 20 Januari 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya tensi politik internasional yang memicu ketidakpastian di pasar keuangan global.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah tercatat melemah 0,24% ke level Rp16.983 per dolar AS. Kondisi ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya yang juga menunjukkan tren pelemahan. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar di Asia, tergerus 0,32%.
Selain won, mata uang Asia lain yang turut melemah adalah dolar Taiwan sebesar 0,13%, dolar Singapura 0,05%, yen Jepang 0,04%, peso Filipina 0,01%, dan baht Thailand 0,01%. Pelemahan kolektif ini mengindikasikan adanya tekanan eksternal yang signifikan terhadap pasar keuangan regional.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) justru dibuka melemah 0,26% di level 99.134, dan kemudian susut lebih lanjut 0,3% menjadi 99.091. Pelemahan dolar AS ini dipicu oleh ancaman tarif yang dilancarkan oleh Presiden AS Donald Trump kepada delapan negara Eropa. Ancaman ini menciptakan kekhawatiran akan perang dagang yang lebih luas.
George Saravelos, kepala riset FX global di Deutsche Bank AG, menyoroti dampak dari kebijakan tersebut. “Dengan eksposur dolar AS yang masih tinggi di seluruh Eropa, perkembangan beberapa hari terakhir berpotensi semakin mendorong penyeimbangan dolar,” ujarnya, sebagaimana dihimpun Mureks dari Bloomberg News.
Meski dolar AS tengah menghadapi tekanan, kondisi ini tidak serta-merta membuat mata uang Asia, termasuk rupiah, bergerak menguat. Mureks mencermati adanya tekanan internal yang turut membebani laju rupiah hari ini, menambah kompleksitas tantangan yang dihadapi mata uang Garuda.
Dengan pelemahan ini, rupiah kini semakin mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS, sebuah ambang batas yang menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar dan otoritas moneter.
