Pemerintah Indonesia secara resmi memangkas target produksi batu bara dan nikel untuk tahun 2026. Kebijakan ini, yang tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, bertujuan utama menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar global serta mendorong kenaikan harga komoditas yang sempat tertekan.

Target Produksi Batu Bara Dipangkas 190 Juta Ton

Untuk sektor batu bara, pemerintah berencana menurunkan target produksi pada tahun 2026 menjadi sekitar 600 juta ton. Angka ini menunjukkan penurunan drastis sekitar 190 juta ton dibandingkan realisasi produksi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa pemangkasan target produksi ini merupakan strategi untuk mendongkrak kembali harga batu bara di pasar global dan mengamankan cadangan batu bara untuk generasi mendatang. “Akibatnya apa supply and demand tidak terjaga, artinya harga batu bara turun. Lewat kesempatan berbahagia ini, Kementerian ESDM sudah rapatkan dengan Dirjen Minerba, kita akan lakukan revisi terhadap kuota RKAB. Jadi, produksi kita akan turunkan supaya harga bagus dan tambang kita untuk cucu kita,” ujar Bahlil pada Senin, 19 Januari 2026.

  ESDM: "Tak Ada Dampak Signifikan Konflik Venezuela ke Harga Minyak Dunia"

Indonesia sendiri merupakan pemasok utama batu bara dunia, dengan menyuplai sekitar 514 juta ton atau 43% dari total volume perdagangan global yang mencapai 1,3 miliar ton per tahun. Kondisi inilah yang disebut Bahlil sebagai pemicu jatuhnya harga batu bara.

Penyesuaian Produksi Nikel Berdasarkan Kapasitas Smelter

Selain batu bara, pemerintah juga akan melakukan penyesuaian produksi nikel. Target produksi nikel pada 2026 akan dipangkas menjadi sekitar 250-260 juta ton, lebih rendah dibandingkan RKAB 2025 yang sebesar 379 juta ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menyatakan bahwa penyesuaian ini dilakukan berdasarkan kebutuhan industri hilir dan kapasitas smelter di dalam negeri. “Nikel kita sesuaikan dengan kapasitas produksi dari smelter. Kemungkinan sekitar 250-260 juta ton,” kata Tri Winarno saat ditemui di Kementerian ESDM pada Rabu, 14 Januari 2026.

Tri mengakui bahwa kebijakan pemangkasan produksi nikel merupakan salah satu strategi untuk mendorong kenaikan harga nikel. Terbukti, setelah rencana ini diumumkan, harga nikel di pasar global sempat menyentuh US$ 18.000 per ton.

  Prabowo Paparkan Kondisi Energi, Hilirisasi, dan Ketahanan Nasional di Hadapan Rektor dan Guru Besar

Hingga saat ini, proses evaluasi RKAB masih berlangsung seiring dengan implementasi aplikasi baru. Namun, Tri Winarno memastikan bahwa seluruh proses berjalan lancar dan RKAB yang ada masih dapat digunakan hingga Maret. “Tapi jangan dianggap ini membuat gangguan terhadap persen RKAB, itu nggak pas. Semua baik-baik saja. Kan sampai Maret juga kita bisa pakai,” pungkasnya.

50% LikesVS
50% Dislikes