Menasional.com – Lombok Timur — Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) menetapkan Sabtu, 7 Maret 2026 sebagai waktu pelaksanaan Puncak Hari Jadi (HADI) ke-73 Nahdlatul Wathan. Penetapan ini sekaligus mengubah rencana awal yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 8 Maret 2026.
Perubahan jadwal tersebut diputuskan oleh Ketua Umum PBNW bersama panitia pelaksana setelah melalui pertimbangan komprehensif, mencakup aspek syar’i, strategis, dan kemaslahatan jamaah. PBNW menilai, penetapan tanggal 7 Maret 2026 lebih tepat untuk memaksimalkan nilai spiritual pelaksanaan HADI NW di bulan suci Ramadhan.
Related Post
Dalam pelaksanaannya nanti, Puncak HADI ke-73 NW akan diarahkan untuk semakin menguatkan atmosfer keagamaan. Rangkaian acara puncak direncanakan diawali dengan khataman Al-Qur’an dan pembacaan Doa Hizib Nahdlatul Wathan, sebagai bagian dari ikhtiar menghidupkan semangat Qur’ani di tengah warga Nahdlatul Wathan.
PBNW juga menegaskan bahwa pemilihan waktu pelaksanaan tidak terlepas dari upaya mendekati momentum malam 17 Ramadhan (Nuzulul Qur’an), yang memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi keislaman. Momentum tersebut diharapkan mampu memperkuat dimensi spiritual peringatan HADI ke-73 NW.
Selain dimensi spiritual, penetapan tanggal 7 bulan 3 (7/3) turut dimaknai secara filosofis. Angka tujuh dalam khazanah Islam sering dikaitkan dengan kesempurnaan dan keberkahan, sementara angka tiga merepresentasikan keseimbangan serta kesinambungan perjuangan. Kombinasi ini dipandang selaras dengan nilai dan spirit perjuangan Nahdlatul Wathan sejak awal berdirinya.
Seiring dengan penetapan jadwal baru tersebut, PBNW mengajak seluruh elemen dan struktur organisasi Nahdlatul Wathan—mulai dari Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah, Pengurus Cabang dan Ranting, Badan Otonom dan lembaga, hingga pondok pesantren, madrasah, serta majlis ta’lim—untuk segera menyesuaikan agenda dan berpartisipasi aktif menyukseskan rangkaian HADI ke-73 NW.
Melalui pelaksanaan Puncak HADI ke-73 NW yang dimajukan ini, PBNW berharap peringatan tahun ini tidak hanya bermakna secara seremonial, tetapi juga lebih mendalam secara ruhani dan memberikan dampak sosial yang lebih luas, sekaligus meneguhkan peran Nahdlatul Wathan sebagai organisasi dakwah, pendidikan, dan sosial yang terus berkhidmat bagi agama, bangsa, dan negara.









