Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan penguatan kapasitas produksi kesehatan nasional merupakan faktor strategis untuk melindungi Indonesia dari risiko krisis global di masa mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan Budi saat meresmikan Pengembangan Fasilitas Manufaktur dan Riset Bayer Indonesia di Depok pada Rabu, 15 Januari 2026.
Menurut Budi, peresmian fasilitas ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kemandirian sistem kesehatan nasional. Ia menyoroti pengalaman pandemi COVID-19 yang menunjukkan kerentanan negara yang tidak memiliki kemampuan produksi obat, vaksin, dan alat kesehatan secara mandiri. Pembatasan mobilitas internasional saat krisis membuat negara yang bergantung pada impor berada dalam posisi sangat rentan terhadap gangguan pasokan.
Kemandirian Industri Farmasi Kunci Hadapi Pandemi
Budi Sadikin menekankan bahwa populasi besar seperti Indonesia menghadapi risiko serius jika tidak memiliki kapasitas industri di dalam negeri saat terjadi wabah berskala global. “Tanpa kapasitas industri di dalam negeri, populasi besar seperti Indonesia menghadapi risiko serius ketika terjadi wabah berskala global,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketahanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pelayanan medis, tetapi juga kesiapan industri penunjang yang mampu tetap beroperasi dalam kondisi darurat. Oleh karena itu, investasi di sektor farmasi dan kesehatan dinilai sebagai bagian dari perlindungan nasional, setara dengan pembangunan infrastruktur strategis lainnya.
Bayer Indonesia Investasikan Rp 99 Miliar untuk Manufaktur dan Riset
Dalam kesempatan yang sama, Head of Bayer Product Supply Consumer Health Asia & ANZ PT Bayer Indonesia, Priscilla Silvan Prarizta, menyatakan komitmen Bayer dalam memperkuat ekosistem kesehatan nasional melalui investasi jangka panjang. “Melalui inisiatif ini, Bayer menginvestasikan 99 miliar rupiah untuk meningkatkan kapabilitas manufaktur, termasuk produksi MMS (Multiple Micronutrient Supplement), sekaligus memperkuat peran pabrik Cimanggis sebagai bagian dari pusat R&D global Bayer,” ujar Priscilla.
Priscilla menjelaskan, investasi tersebut memungkinkan pabrik Cimanggis memproduksi hingga 1,2 miliar tablet MMS per tahun. Produk-produk tersebut akan dipasok ke pasar domestik dan 42 negara lainnya. “Seluruh operasional dijalankan oleh tenaga profesional Indonesia, sementara fasilitas R&D kami berfokus pada peningkatan kualitas dan optimisasi formulasi agar produk tetap aman dan efektif di berbagai kondisi iklim,” katanya.
Dukungan Jerman untuk Ketahanan Ekonomi dan Kesehatan Indonesia
Sementara itu, Duta Besar Jerman untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste, Ralf Beste, menilai investasi Bayer mencerminkan kekuatan basis industri Jerman yang berorientasi jangka panjang. Menurutnya, produksi lokal dan transfer teknologi menjadi elemen penting dalam membangun ketahanan ekonomi dan kesehatan.
“Kami sangat senang melihat keputusan untuk memproduksi di Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai hub. Hal ini membawa manfaat berupa produksi lokal, transfer pengetahuan, serta penguatan kemitraan Jerman–Indonesia,” ujar Ralf Beste.
Ia menambahkan, sektor kesehatan dan farmasi akan menjadi salah satu pilar utama peningkatan kerja sama ekonomi kedua negara ke depan.
