Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai tantangan global di abad ke-21. Pernyataan ini disampaikan Pratikno di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan krisis etika yang melanda dunia modern.
Pendidikan Islam sebagai Kompas Etika
Dalam kegiatan Review and Design on Islamic Education Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Tahun 2025 di Jakarta, Selasa (30/12/2025), Pratikno menyoroti potensi kerusakan akibat dinamika global. “Menghadapi semua potensi kerusakan ini, suara Islam harus hadir. Dan suara itu harus lahir dari pendidikan Islam,” ujar Pratikno.
Menurut Pratikno, dunia saat ini berada dalam situasi penuh ketidakpastian atau yang dikenal sebagai era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Ia menjelaskan, perubahan terjadi sangat cepat, disinformasi merajalela, dan teknologi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan nilai-nilai kemanusiaan. “Pertanyaannya, di mana posisi Islam? Di mana suara intelektual Muslim? Dan siapa yang akan menjadi kompas etika di tengah kekacauan ini?” tanyanya.
Pratikno mengajak dunia pendidikan Islam untuk meneladani masa keemasan peradaban Islam pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Pada periode tersebut, para khalifah seperti Al-Mansur, Al-Mahdi, dan Al-Ma’mun menempatkan ilmu pengetahuan, riset, dan seni sebagai investasi peradaban. Ilmuwan Muslim kala itu tidak hanya menerjemahkan karya-karya Yunani, Persia, dan India, tetapi juga mengembangkan ilmu baru yang menjadi fondasi sains modern, seperti algoritma dan aljabar yang diperkenalkan oleh Al-Khawarizmi.
“Keistimewaan masa itu adalah tidak adanya pemisahan antara ilmu dan nilai, antara sains dan spiritualitas, serta antara inovasi dan etika,” jelas Pratikno.
Pratikno menilai pendidikan Islam saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, agama bisa tampil sebagai solusi etis dan moral bagi masa depan dunia. Namun, di sisi lain, agama berisiko ditinggalkan jika tidak mampu merespons realitas zaman. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus membuktikan diri sebagai kerangka dinamis yang mampu melahirkan masa depan yang adil, berkeadilan sosial, dan berkelanjutan secara ekologis.
Ia juga menyoroti sejumlah tantangan serius akibat kemajuan teknologi, seperti maraknya deep fake, bias algoritma kecerdasan buatan, hingga praktik surveillance capitalism yang mengancam kebebasan dan martabat manusia.
Transformasi Kurikulum dan Ekoteologi
Senada dengan Pratikno, Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya transformasi pendidikan Islam. Menurutnya, transformasi ini krusial agar pendidikan Islam mampu menjawab krisis global yang ditandai oleh perubahan cepat, ketidakpastian, hingga tantangan etika teknologi.
“Agama tidak boleh menjadi penjara kreativitas. Agama adalah kompas moral yang membimbing manusia agar kreatif, beradab, dan bertanggung jawab,” ujar Menag Nasaruddin Umar.
Menag Nasaruddin Umar juga menyoroti pentingnya kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi sebagai fondasi pendidikan Islam masa depan. Kurikulum ini, lanjutnya, harus mendorong pergeseran dari formalitas ke substansi, dari cara pandang antroposentris ke kesadaran ekologis, serta dari keberagamaan yang kaku menuju keberagamaan yang membebaskan.
