Kabut tipis masih menyelimuti punggung bukit Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, pada Jumat, 02 Januari 2026. Di tengah hamparan sawah yang didominasi padi biasa, Juhdi, seorang petani berusia 50-an, menatap petak-petak sawahnya yang berbeda rupa. Bulir-bulir berwarna gelap berdiri angkuh di antara hijaunya padi lain, menyimpan tuah yang tak ternilai.
Itulah beas hideung cigadog, varietas padi hitam lokal yang telah menjadi “harta karun” tersembunyi di tanah Priangan. Juhdi, Ketua Kelompok Tani Fajar Bakti Desa Sirnajaya, menjelaskan bahwa padi ini merupakan warisan leluhur yang telah ia tanam secara intensif sejak tahun 2000-an.
“Ini warisan leluhur, sudah turun-temurun. Dan sejak tahun 2000-an saya sudah mulai tanam dengan intens,” ujar Juhdi sambil menunjukkan malai padi yang merunduk berat, tanda bulir-bulir yang padat.
Secara historis, beras hitam dikenal di zaman kekaisaran China sebagai forbidden rice, sajian “terlarang” yang hanya diperuntukkan bagi meja makan kaisar demi umur panjang. Namun, di Gunung Halu, mitos eksklusivitas itu bertransformasi menjadi penopang ekonomi nyata bagi para petani.
Nilai ekonomi beas hideung memang menggiurkan. Jika gabah padi putih biasa dihargai Rp700.000 per kuintal, gabah beas hideung dapat menembus Rp1.000.000 per kuintal. Ketika diolah menjadi beras, harganya mencapai Rp20.000 per kilogram di tingkat petani, jauh melampaui harga beras premium di pasaran.
Namun, di balik kilau harga tersebut, terdapat tantangan nyata dalam budidayanya. Pertama, usia tanam beas hideung rata-rata mencapai 5-6 bulan, atau dua bulan lebih lama dibandingkan padi putih. Meskipun Juhdi dapat memanen setiap empat bulan berkat lahan di lembah dengan pasokan air melimpah, tantangan kedua adalah produktivitasnya yang hanya tiga ton per hektare, separuh dari padi biasa.
Di sinilah peran vital pupuk sebagai nutrisi bumi menjadi penentu. Tanpa asupan pupuk yang tepat, varietas lokal yang rentan ini berisiko gagal memberikan bulir terbaiknya. Tantangan ini diperparah oleh data yang tidak akurat, yang kerap membuat serapan pupuk bersubsidi fluktuatif dan cenderung turun. Kondisi ini tentu berdampak pada petani seperti Juhdi, yang sangat bergantung pada ketersediaan dan ketepatan pupuk untuk menjaga kualitas beas hideung mereka.
Upaya untuk memastikan akses pupuk bersubsidi terus dilakukan. Yulia Septia Wahyuni, pengelola Kios Akbar Jaya di Desa Sirnajaya, Gunung Halu, misalnya, bersiap melayani transaksi pupuk bersubsidi menggunakan aplikasi i-Pubers, sebuah sistem yang diharapkan dapat memastikan distribusi pupuk lebih tepat sasaran bagi para petani.
