Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) memperkuat ekosistem creative tech nasional melalui pendekatan sinergi hexahelix. Langkah ini ditempuh sebagai bagian dari upaya menjawab tantangan perlambatan investasi global, salah satunya melalui kemitraan strategis dengan perusahaan modal ventura East Ventures.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan sektor bisnis untuk mendorong pertumbuhan. “Kami percaya ekonomi kreatif akan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah. Karena itu, kolaborasi dengan pelaku industri dan investor menjadi kunci untuk memperkuat ekosistem berbasis kekayaan intelektual,” ujar Riefky dalam keterangan resmi yang diterima pada Sabtu (10/1/2026).
Pertemuan audiensi dengan East Ventures berlangsung di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, pada Jumat (9/1/2026). Audiensi ini menjadi bagian dari program dana ekraf untuk pengembangan akses pendanaan, pembiayaan, dan investasi ekonomi kreatif, sekaligus tindak lanjut dari program Ekraf Tech Innovation Challenge.
Menurut Riefky, kehadiran East Ventures dalam kemitraan ini menegaskan peran strategis modal ventura dalam mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif berbasis teknologi dan kekayaan intelektual. Ia juga menyebutnya sebagai wujud sinergi hexahelix antara pemerintah, pelaku bisnis, dan ekosistem inovasi dalam menjawab tantangan pembiayaan industri kreatif.
“Kolaborasi hexahelix diperlukan agar inovasi teknologi dan talenta kreatif tetap memiliki ruang tumbuh yang berkelanjutan,” tegas Riefky.
Partner East Ventures Melisa Irene menyampaikan bahwa Indonesia masih menjadi pasar utama investasi bagi perusahaan modal ventura tersebut. “Dari lebih dari 300 perusahaan portofolio East Ventures, sekitar 75 persen berada di Indonesia, sementara sebagian lainnya tersebar di Singapura dan negara ASEAN,” tutur Melisa.
Dengan populasi sekitar 284 juta jiwa dan tingkat penetrasi internet mencapai 80,6 persen, Indonesia dinilai masih memiliki potensi besar bagi pengembangan produk digital. Sektor-sektor seperti e-commerce, fintech, dan layanan berbasis aplikasi menjadi area yang sangat menjanjikan.
Kontribusi startup lokal juga tercatat signifikan. Startup on-demand di Indonesia telah menciptakan sekitar 588 ribu lapangan kerja dan memberikan tambahan pendapatan rumah tangga hingga Rp33,2 triliun, menegaskan peran ekonomi kreatif digital sebagai pendorong kesejahteraan.
Peluang baru turut muncul dari berkembangnya sektor startup berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mencatat nilai investasi sekitar 542,9 juta dolar AS pada tahun 2024. Tren ini diperkuat oleh dukungan lintas kementerian dan lembaga melalui berbagai program penguatan ekosistem inovasi nasional.
