Menteri luar negeri dari sepuluh negara, meliputi Kanada, Denmark, Finlandia, Prancis, Islandia, Jepang, Norwegia, Swedia, Swiss, dan Inggris, pada Selasa, 30 Desember 2025, mengeluarkan pernyataan bersama. Pernyataan yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Inggris di London tersebut mengungkapkan keprihatinan mendalam atas memburuknya situasi kemanusiaan di Jalur Gaza.
Para menteri secara tegas menyatakan, “kekhawatiran serius tentang memburuknya kembali situasi kemanusiaan di Gaza yang tetap memprihatinkan.” Mereka menyoroti bahwa warga sipil di Gaza kini menghadapi kondisi yang mengerikan, terutama dengan datangnya musim dingin yang membawa curah hujan tinggi dan suhu yang terus menurun.
Kondisi Mengerikan di Gaza
Selain tantangan cuaca ekstrem, warga Gaza juga terus menderita akibat kekurangan pangan yang parah dan fasilitas kesehatan yang sangat minim. Kondisi ini secara signifikan memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah ada.
Menanggapi situasi ini, para menteri menyerukan kepada pemerintah Israel untuk memastikan operasi organisasi nonpemerintah internasional di Gaza berjalan “berkelanjutan dan dapat diprediksi.” Hal ini krusial untuk mengamankan respons kemanusiaan yang efektif dan memastikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) beserta para mitranya dapat terus menyalurkan bantuan di wilayah tersebut.
Desakan Pencabutan Pembatasan dan Pembukaan Perbatasan
Israel juga didesak untuk segera mencabut pembatasan impor barang fungsi ganda (dual-use) yang seringkali menghambat masuknya material penting untuk rekonstruksi dan bantuan. Selain itu, pembukaan perbatasan secara penuh juga menjadi tuntutan utama guna memfasilitasi aliran bantuan kemanusiaan yang lebih lancar dan masif.
Sebelumnya, Pemerintah Palestina telah meminta komunitas internasional dan badan-badan PBB untuk mengambil tindakan kemanusiaan mendesak. Permintaan ini bertujuan melindungi warga Gaza dari kondisi musim dingin yang keras dan badai beruntun yang melanda wilayah tersebut.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan setelah pertemuan mingguan di Ramallah, Pemerintah Palestina secara spesifik menyerukan masuknya bantuan unit rumah-rumah mobile dan berbagai perlengkapan tempat penampungan lainnya ke Jalur Gaza. Langkah ini diharapkan dapat memberikan perlindungan dasar bagi ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal atau hidup dalam kondisi tidak layak.
