Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, menegaskan bahwa kebersamaan seluruh elemen bangsa menjadi kunci utama dalam mengatasi dampak bencana alam yang melanda berbagai daerah di Indonesia. Muhammadiyah sendiri terus berperan aktif dalam mendorong semangat persatuan ini.

Pernyataan tersebut disampaikan Haedar saat meninjau progres pembangunan gedung 15 lantai di Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Senin, 29 Desember 2025. Kunjungannya bertepatan dengan Milad Ke-60 UMP, di mana gedung utama tersebut nantinya akan diberi nama Presiden Tower.

Meskipun agenda akademik dan peresmian infrastruktur berjalan, Haedar menekankan bahwa hal tersebut tidak boleh mengaburkan keprihatinan terhadap kondisi kemanusiaan yang sedang dihadapi bangsa. Indonesia saat ini masih berada dalam suasana duka akibat bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah, termasuk Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan beberapa daerah lainnya.

Fokus Penanganan Darurat

Menurut Haedar, penanganan darurat bencana harus menjadi fokus utama seluruh kekuatan bangsa bersama pemerintah. “Kita masih dalam keadaan duka. Tanpa mempersoalkan status kebencanaan yang bisa menimbulkan perdebatan panjang, yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama menyelesaikan penanggulangan darurat bagi saudara-saudara kita,” ujarnya.

  Polres Yahukimo Amankan Pelaku Pembunuhan Guru Melani Wamea Usai Buron Dua Bulan

Ia meyakini bahwa jika seluruh elemen bangsa bersatu, proses penanganan darurat dapat segera dilanjutkan ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Tahap ini, lanjutnya, membutuhkan waktu panjang, konsistensi, serta energi kolektif yang besar dari semua pihak.

Kajian-kajian mengenai ekosistem, lingkungan, dan faktor penyebab bencana memang penting, namun sebaiknya dilakukan setelah fase darurat terlewati. Pendekatan yang objektif dan ilmiah dalam kajian tersebut diharapkan dapat menjadi masukan strategis bagi kebijakan nasional ke depan.

“Yang diperlukan saat ini adalah semangat bersatu, semangat bersama, semangat peduli, dan berbagi dari seluruh komponen bangsa,” tegas Haedar.

Peran Aktif Muhammadiyah

Muhammadiyah, kata Haedar, telah terlibat aktif dalam berbagai program kemanusiaan sejak hari pertama terjadinya bencana. Program-program tersebut meliputi pengiriman sukarelawan, bantuan logistik, layanan kesehatan, hingga pendampingan bagi masyarakat terdampak.

Selain itu, Muhammadiyah juga terus melakukan penggalangan dana. Upaya ini bertujuan agar bantuan dapat disalurkan secara berkelanjutan, tidak hanya pada masa tanggap darurat, tetapi hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

  Aceh Diguncang 1.556 Gempa Bumi Sepanjang 2025, Naik 39 Persen dari Tahun Sebelumnya

“Kita memiliki pengalaman panjang dalam penanganan bencana, mulai dari tsunami Aceh, gempa Yogyakarta, gempa Sumatera Barat, hingga gempa Sulawesi Tengah. Pengalaman itu menjadi modal penting untuk terus memperkuat peran kemanusiaan,” ungkapnya.

Perguruan tinggi Muhammadiyah, termasuk Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), juga memiliki peran strategis. Mereka diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun kesadaran kebencanaan, penguatan riset, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.

Haedar berharap peringatan Milad Ke-60 UMP dapat menjadi momentum refleksi perjalanan institusi. Sekaligus, momen ini diharapkan dapat memperkuat komitmen Muhammadiyah dalam mengabdi kepada bangsa dan negara, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan kemanusiaan dan kebencanaan.

50% LikesVS
50% Dislikes