Sebuah video yang dijuluki “Teh Pucuk 17 Menit KKN Lombok” masih menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial hingga Jumat, 21 Februari 2026. Potongan video yang beredar luas memicu rasa penasaran warganet, namun di tengah pencarian versi lengkapnya, informasi hoaks mengenai penangkapan pelaku turut menyebar.
Asal Mula Viralnya “Video Teh Pucuk”
Fenomena viral ini bermula dari beredarnya potongan video singkat yang menampilkan percakapan antara seorang pria dan wanita di dalam sebuah kamar. Kehadiran botol minuman kemasan dalam rekaman tersebut kemudian memicu warganet untuk menjuluki konten ini sebagai “Video Teh Pucuk 17 Menit”.
Related Post
Seiring waktu, narasi di balik video tersebut berkembang, dengan adanya dugaan yang mengaitkan pemeran wanita dalam video dengan mahasiswi Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Lombok. Asosiasi ini semakin meningkatkan intensitas pencarian dan menjadikan video tersebut topik panas di dunia maya.
Hoaks Penangkapan Pelaku Beredar Luas
Di tengah kehebohan, muncul kabar yang menyebutkan bahwa pembuat video “Teh Pucuk KKN Lombok” telah ditangkap oleh pihak kepolisian. Tidak hanya itu, narasi lain bahkan mengklaim bahwa perempuan yang diduga terlibat dalam pembuatan video juga turut diamankan.
Namun, setelah dilakukan penelusuran, video penangkapan yang beredar di media sosial terbukti hanya menggunakan potongan rekaman yang sama dengan narasi yang berbeda-beda. Beberapa akun bahkan sengaja memberi judul yang bervariasi, mengaitkannya dengan video botol minuman tertentu atau kasus viral lainnya.
Belum Ada Konfirmasi Resmi dari Pihak Berwenang
Hingga saat ini, belum ada bukti resmi atau konfirmasi dari pihak kepolisian yang menyatakan bahwa pembuat atau pemeran dalam video “Teh Pucuk 17 Menit KKN Lombok” benar-benar telah ditangkap. Informasi yang tersebar di media sosial masih memerlukan verifikasi lebih lanjut untuk menghindari kesalahpahaman dan penyebaran berita bohong.
Warganet diimbau untuk senantiasa bersikap bijak dalam menyaring dan menyebarkan informasi. Penting untuk tidak langsung mempercayai kabar yang belum jelas sumbernya, guna meminimalkan penyebaran hoaks di ruang digital.









