Dari Tangerang ke Jepang: OM YB1UUU Buktikan Keampuhan Radio QRP 3 Watt dalam Kontes Internasional

Kisah inspiratif datang dari dunia radio amatir. OM Triyono Hadiyanto YB1UUU, seorang pegiat radio amatir (AR) dari Tangerang, Banten, berhasil menorehkan prestasi membanggakan. Dengan hanya menggunakan radio berdaya pancar rendah atau QRP (low power) sebesar 3 watt, ia sukses menjalin komunikasi dengan stasiun di Jepang dalam ajang kontes internasional bergengsi.

Mengenal Radio QRP: Daya Rendah, Tantangan Tinggi

QRP merupakan singkatan dari kode Q yang berarti ‘kurangi daya pancar’. Dalam praktiknya, radio QRP umumnya menggunakan daya maksimum 10 watt, namun seringkali hanya 5 watt, bahkan ada yang 1 watt. Keterbatasan daya ini menuntut para amatir radio untuk memaksimalkan kinerja antena dan memilih lokasi yang strategis.

Lokasi ideal untuk penggunaan radio QRP adalah dekat dengan area yang memiliki ground basah, seperti di pinggir pantai atau persawahan. Untuk komunikasi frekuensi tinggi (HF), media ground yang basah terbukti lebih efisien dalam memantulkan sinyal ke ionosfer, sebelum dipantulkan kembali ke bumi dan diterima oleh stasiun di belahan dunia lain.

Pengguna radio QRP seringkali memancar dari pantai, terutama untuk mengikuti kontes, DX-pedisi, maupun DXing. Kemampuan menjangkau stasiun antarnegara, bahkan antarbenua, dengan daya rendah menjadi kebanggaan tersendiri bagi para AR. Selain menguji kemampuan antena, penggunaan radio QRP juga memungkinkan penggunaan catu daya portabel, menjadikannya ringkas, hemat energi, dan tidak bergantung pada sumber listrik PLN. Hal ini memberikan kebebasan bagi pengguna QRP untuk memilih lokasi pancaran.

Kode Q: Bahasa Universal Amatir Radio

Sebelum membahas lebih jauh tentang QRP, penting untuk memahami kode Q yang menjadi bagian tak terpisahkan dari komunikasi amatir radio. Menurut situs orlokbalam.or.id, kode Q adalah:

“serangkaian singkatan tiga huruf yang dimulai dengan huruf ‘Q’, digunakan oleh amatir radio di seluruh dunia untuk mempercepat dan mempermudah komunikasi, terutama saat sinyal lemah. Kode ini berfungsi sebagai pertanyaan atau pernyataan terkait lokasi, frekuensi, kekuatan sinyal, dan gangguan, menghemat waktu dan mengatasi kendala bahasa.”

Beberapa contoh kode Q yang umum digunakan antara lain:

  • QRA: Nama stasiun saya adalah… / Siapa nama stasiun Anda?
  • QRB: Jarak antara kita adalah … km / Berapa jarak stasiun Anda?
  • QRG: Frekuensi Anda adalah … kHz / Berapa frekuensi saya sebenarnya?
  • QRH: Frekuensi Anda bergeser.
  • QRM: Saya terganggu oleh stasiun lain (interferensi manusia).
  • QRN: Saya terganggu oleh statis (interferensi alam/petir).
  • QRP: Kurangi daya pancar (low power).
  • QRO: Naikkan daya pancar atau high power.
  • QRQ: Kirim lebih cepat.
  • QRS: Kirim lebih lambat.
  • QRT: Hentikan pancaran/tutup stasiun (matikan radio).
  • QRV: Saya sudah siap.
  • QRX: Tunggu sebentar.
  • QRZ: Siapa yang memanggil saya?
  • QSA: Kekuatan sinyal Anda adalah… (1-5).
  • QSB: Sinyal Anda naik-turun (fading).
  • QSL: Berita diterima dengan baik/komunikasi dikonfirmasi (QSL Card).
  • QSO: Komunikasi/percakapan dua arah.
  • QSP: Saya akan menyampaikan berita ke…
  • QSY: Pindah ke frekuensi lain.
  • QTH: Lokasi/posisi stasiun.
  • QTR: Waktu/jam saat ini.

QRP Day dan Kontes Internasional

Untuk menggaungkan penggunaan radio QRP, para amatir radio mencetuskan Hari QRP atau QRP Day. Di Indonesia, partisipasinya cukup banyak, dengan situs MyQSL.id yang rutin menyelenggarakan QRP Day setiap tahun.

Di banyak kontes internasional, kategori QRP juga dipertandingkan, biasanya dengan kriteria daya maksimum 5 watt. Sebagai contoh, pada CQ WW Contest 2025, tercatat ada 1.298 peserta di kategori QRP. Kategori lainnya adalah low power maksimum 100 watt dan high power maksimum 1.500 watt. Di Indonesia, penggunaan QRP hanya diperbolehkan untuk kelas Penegak (YB/YE).

Kisah OM Triyono Hadiyanto YB1UUU: Menguji Batas Komunikasi

Salah satu pegiat QRP terkemuka di Indonesia adalah OM Triyono Hadiyanto YB1UUU, yang akrab disapa OM Yon. Berdomisili di Tangerang, Banten, OM Yon termasuk dalam call area 1 bersama Jawa Barat. Ia dikenal rajin membagikan pengalamannya dalam berbagai kegiatan amatir radio menggunakan QRP melalui blog pribadinya di https://cqradio.wordpress.com/. OM Yon juga merupakan anggota QRP RESPECT #233, sebuah komunitas QRP dunia.

OM Yon mengutip pengalamannya yang seru saat mengikuti kontes radio QRP:

“Mengikuti sebuah kontes memang bagi saya sangat menyenangkan. Setidaknya dapat menguji beberapa hal dalam kegiatan amatir radio. Belajar handling pileup, belajar percaya diri, menguji kondisi peralatan amatir radio, mengasah skill termasuk pengujian kondisi propagasi pada suatu waktu.”

Pada tanggal 29–30 Maret 2025, OM Yon berpartisipasi dalam kontes bergengsi CQ WW WPX SSB Contest. Kontes 48 jam ini berlangsung di penghujung Ramadan dan menjelang Idul Fitri, menarik banyak peserta dari berbagai negara.

“Kondisi ini sangat cocok untuk sekaligus melakukan pengujian radio (tr)uSDX yang baru saja saya update firmwarenya ke tingkat Beta versi R2.0.0x, versi terakhir. Kategori QRP ini cukup saya ikuti di 40m Band saja karena versi (tr)uSDX yang ada adalah versi Low Band (80,60,40,30 dan 20m Band),”

ungkap OM Yon. Ia menggunakan tiga buah baterai tipe 18650 yang mampu menghasilkan daya sekitar 3 watt pada kondisi tegangan rata-rata baterai 11,5 volt. Meskipun ada beberapa panggilan yang tidak terdengar, banyak kontak berhasil dilakukan dengan baik.

“Transceiver besutan dari QRP Labs ini sedikit menyita perhatian saya. QMX mempunyai keistimewaan tersendiri pada rentang harga yang ditawarkan. Dalam menekuni karir QRP, mode CW adalah mode utama dan paling banyak saya gunakan. Tentu mode lainnya tetap dimainkan, seperti SSB atau digital mode,”

tambahnya. Untuk kegiatan QRP, OM Yon memilih radio yang telah dirakit dan diuji oleh QRP Labs. Proses mendapatkannya pun melalui sistem antrean panjang karena tingginya animo para QRP’er terhadap produk-produk transceiver QRP dari QRP Labs.

“Pemesanan pada tanggal 23 Januari 2025 dan unit sampai pada tanggal 17 Maret 2025. Yah, sekitar 2 bulan! Namun sebanding dengan apa yang didapatkan,”

tulisnya.

Kontak Perdana ke Jepang dengan 3 Watt

Pengujian pertama kali dilakukan pada 22 Maret 2025 di 20 meter band. Sore itu, OM Yon berhasil melakukan kontak dengan JN1RKE, Hiro, yang berlokasi di Saitama, Jepang. Hiro saat itu sedang melakukan panggilan umum di frekuensi 14.042,50 KHz.

Awalnya, Hiro tampak kesulitan mendengar panggilan OM Yon. Namun, setelah beberapa kali mengulangi tanda panggilan, kontak berhasil terjalin dengan sukses. Mereka bahkan sempat mengobrol sejenak, bertukar nama, QTH (lokasi stasiun), dan kondisi stasiun yang digunakan.

“Pukul 10.43 UTC saya bukukkan JN1RKE dengan report 579 untuknya. Sedangkan Hiro memberikan RST 569, sebuah report yang bagus untuk 3 watt power dengan QMX,”

tutur OM Yon. Keseruan pengalaman OM Yon ini juga dapat disaksikan di kanal YouTube-nya: https://www.youtube.com/@yb1uuuchannel462/.

Penggunaan radio QRP memang membutuhkan keterampilan dan kesabaran tinggi. Kemampuan membaca propagasi, memilih tempat yang tepat, serta penggunaan antena yang efisien adalah keahlian utama para pengguna radio QRP. Penulis, YD9IHG, bahkan mengakui, “Saya jadi malu dengan power radio saya 120 watt, masih teriak-teriak saat check in atau kegiatan SES. Bagaimana dengan Anda?”